Mungkin, Nusantara adalah The Atlantis yang Hilang dan Kini Dicari
Dianggap benua yang hilang, Atlantis memancing aneka spekulasi
ilmiah. Fakta atau mitos? Nusantara Indonesia-kah The Atlantis itu?
Atlantis adalah misteri yang menggoda para ilmuwan, dan kaum
spritualis untuk menelisik kembali peradaban maju manusia yang, konon,
hilang. Setidaknya, ribuan buku telah ditulis ihwal legenda itu.
Pada mulanya adalah Plato (427-347 SM), filsuf Yunani, mencatat cerita soal benua hilang itu dalam dua karyanya, Timaeus dan Critias.
Keduanya adalah karya terakhir Plato, yang ditulis pada 347 SM. Pada
tahun yg sama pula Plato meninggal. Dikisahkan di kedua karya itu,
Atlantis adalah kota dengan peradaban tinggi dan teknologi sangat maju.
The Atlantis, the lost Continent (ilustration)
Atlantis, kata Plato, punya kekuatan maritim dahsyat, dan berada di depan “Pilar-pilar Hercules.”
Tanahnya subur, rakyatnya makmur. Dia semacam surga di bumi, yang
wilayahnya meliputi barat Eropa hingga Afrika. Plato mengatakan,
Atlantis hadir sekitar 9.000 tahun sebelum mazhab Solon, atau 9.600 tahun sebelum zaman Plato hidup.
Kejayaan Atlantis, kata Plato, mulai pudar setelah gagal menguasai Athena,
negeri para dewa dan dewi. Petaka menimpa Atlantis sehingga pulau itu
hilang ditelan laut dalam hitungan hari. Para penghuni yang selamat
pergi mencari tempat baru. Atlantis akhirnya menjadi “surga yang hilang.”
Memang, banyak orang ragu pada cerita Plato yang mirip dongeng itu. Tapi, seperti dijelaskan Alan Cameron dalam buku “Greek Mythography in the Roman World”
terbitan Oxford (2004), mitologi adalah tiang bagi budaya elit bangsa
Yunani. Meski banyak yang meragukan kebenarannya, tapi kisah itu bisa
jadi refleksi peristiwa tertentu di masa lalu.
Atlantis, misalnya, menjadi diskusi menarik setelah Zaman Pencerahan.
Ada bantahan, parodi, hingga penjelasan ilmiah. “Tampaknya hanya di
zaman modern orang-orang menganggap serius kisah Atlantis,” tulis
Cameron.
Ada yang menyebut cerita itu diilhami kisah masa lalu, seperti letusan Gunung Thera atau Perang Troya. Atau simak juga klaim bahwa Plato terilhami sejumlah peristiwa kontemporer di masanya, seperti runtuhnya dinasti Helike pada 373 SM. Atau, gagalnya invasi militer Athena atas Pulau Sisilia pada perang tahun 415-413 SM.
Di awal peradaban moderen, kisah Atlantis itu dihidupkan kembali oleh
para penulis aliran humanis di era Renaissance Eropa. Salah satunya Francis Bacon, yang menerbitkan esei berjudul “New Atlantis” pada 1627.
Dalam tulisannya, Bacon melihat Atlantis sebagai suatu masyarakat utopis yang dia sebut Bensalem. Letaknya di pesisir barat benua Amerika. Penulis lain tak mau kalah. Olaus Rudbeck, melalui tulisannya pada 1679, beranggapan Atlantis berada di negara kelahirannya, Swedia. Negara itu disebut Rudbeck sebagai awal lahirnya peradaban, termasuk bahasa.
Ilmuwan kenamaan Inggris, Sir Isaac Newton pun unjuk pendapat. Pada 1728, penemu teori gravitasi itu menerbitkan karya berjudul “The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended.” Newton juga penasaran mempelajari penjelasan mitologis terkait Atlantis.
Meski tak menyinggung khusus Atlantis, Newton memaparkan peristiwa
bersejarah di sejumlah tempat, yang punya masa gemilang mirip Atlantis
versi Plato. Misalnya, kejayaan Abad Yunani Kuno, Kekaisaran Mesir,
Asuriah, Babilonia, Kuil Salomo, dan Kerajaan Persia.
Mitologi Atlantis juga membuat rezim Nazi di Jerman terusik. Pada 1938, seorang pejabat tinggi polisi khusus Nazi, Heinrich Himmler,
kabarnya membentuk tim ekspedisi ke Tibet. Soalnya, ada cerita Atlantis
itu dibangun bangsa Arya, nenek moyang orang-orang Jerman. Misi itu
gagal. Keyakinan Nazi itu belakangan diragukan sejumlah ilmuwan.
Jejak di Nusantara
Perburuan, dan spekulasi keberadaan Atlantis terus dicari sepanjang
zaman. Sejumlah karya lahir, dan menunjukkan daerah tertentu diduga
bagian dari ‘Kejayaan yang Tenggelam‘ itu.
Indonesia juga masuk dalam daftar spekulasi para peneliti dan peminat mitologi Atlantis. Misalnya, Profesor Arysio Santos dari Brazil. Dia geolog dan fisikawan nuklir. Lalu, ada ahli genetika dari Oxford, Inggris, Profesor Stephen Oppenheimer. Keduanya menduga wilayah Indonesia memendam sisa-sisa ‘Surga Yang Hilang‘ itu.
Profesor Arysio Santos
Santos menampilkan peta wilayah Indonesia dalam bukunya yang terbit pada 2005, “Atlantis: The Lost Continent Finally Found.” Benua hilang itu kemungkinan berada di sebagian Indonesia dan Laut China Selatan, demikian keyakinan Santos.
Dalam karya itu, dia mengklaim telah melakukan riset perbandingan,
seperti kondisi wilayah, cuaca, potensi sumber daya alam, gunung berapi,
dan pola hidup masyarakat setempat.
Dalam buku itu, dia berhipotesis, wilayah Nusantara dulunya adalah
Atlantis. Bagi Santos, indikasi itu antara lain soal luas wilayah.
Seperti dikatakan Plato, Atlantis “lebih besar dari gabungan Libya
(Afrika Utara) dan Asia (Minor)”. Indonesia, oleh Santos, dianggap cocok
dengan karakter geografi itu.
The Lost Continent Finally Found
Santos di laman YouTube, menampilkan dia tak ragu bahwa Atlantis benar-benar ada, dan bukan sekedar mitos.
Santos menjelaskan mengapa selama ini para ilmuwan gagal menemukan Atlantis, dan ragu akan keberadaan kota yang hilang itu. “Karena mereka mencarinya di tempat yang salah. Mereka mencarinya di Laut Atlantis,” kata dia dalam wawancara di YouTube, seperti dimuat laman Hubpages.
Anggapan Atlantis berada di Samudera Atlantis, memang logis. Namun, itu bukan lokasi yang tepat. “Atlantis berada di Lautan Hindia [Indonesia], di belahan lain bumi,” kata dia.
Di belahan bumi timur itulah, peradaban bermula. Namun, kata dia,
Samudera Hindia atau Laut China Selatan sebagai lokasi Atlantis hanya
batasan. “Lebih pastinya di Indonesia,” lanjut Santos.
Sebelum zaman es berakhir 30.000 sampai 11.000 tahun lalu, di
Indonesia terdapat daratan besar. Saat itu permukaan laut 150 meter
lebih rendah dari yang ada saat ini. Di lokasi itulah tempat adanya
peradaban. Sementara, sisa bumi dari Asia Utara, Eropa, dan Amerika
Utara masih diselimuti es.
Geografi Indonesia pada masa lalu
Pulau-pulau yang tersebar di Indonesia dianggap sebagai puncak
gunung, dan dataran tinggi dari suatu benua yang tenggelam akibat
naiknya permukaan air laut, dan amblesnya dataran rendah di akhir Masa
Es Pleistocene. Itu terjadi sekitar 11.600 tahun lampau.
“Itu adalah rentang waktu sama dengan dipaparkan Plato dalam dialog ciptaannya saat menyinggung Atlantis,” tulis Santos pada bagian pendahuluan di bukunya.
Video “benua” yang hilang di wilayah Indonesia pada zaman dahulu, es di kutub belum mencair dan air laut masih rendah:
Berbeda dengan keyakinan para peneliti sebelum atau pada
generasi Santos, dia pun optimistis bahwa Indonesia, yang disebut
sebagai bekas peninggalan Atlantis, menjadi cikal bakal lahirnya
sejumlah peradaban kuno.
Para penghuni wilayah yang selamat dari naiknya permukaan air
laut dan letusan gunung berapi akhirnya berpencar mencari
tempat-tempat. Mereka “pindah ke wilayah-wilayah yang kini disebut
India, Asia Tenggara, China, Polynesia, Amerika, dan Timur Dekat,” tulis
Santos.
Video Interview with Prof. Arysio Santos – Atlantis, The Lost Continent Finally Found
Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis asal Inggris, Stephen Oppenheimer, dalam buku “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia”
(1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam akibat banjir bandang,
dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 hingga 14.000 tahun yang
lampau.
Profesor Stephen Oppenheimer
Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Asia Tenggara.
Oppenheimer menyebut benua tenggelam itu sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka.
Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa ditelusuri di Asia.
Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. “Mereka
sudah mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu
binatang menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan
melintas laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau,” demikian penggalan asumsi dari Oppenheimer.
Sejarah selama ini mencatat induk peradaban manusia modern berasal
dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia.
Apa buktinya? “Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari
peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam diskusi
bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli genetika
dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi paradigma
berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal berasal
dari Barat.
Berbeda dengan Santos, Oppenheimer tak langsung menyimpulkan
Sundaland adalah Atlantis. Dia sendiri mengakui butuh penelitian lebih
lanjut, dan berharap ada kerjasama dengan peneliti di Indonesia, untuk
menjelaskan Sundaland adalah Surga yang Tenggelam itu. Tapi, Oppenheimer
meyakini Sundaland di wilayah Nusantara itu punya peradaban sangat maju
di masanya.
Ilmu semu?
Pendapat Santos dan Oppenheimer mengenai jejak Atlantis dan Indonesia
sebagai bekas pusat peradaban itu di satu sisi mengundang pesona. Tapi
tak semua pihak percaya atas klaim itu. Menariknya, justru ilmuwan
Indonesia sendiri mengkritik pandangan dua pengamat asing itu.
Profesor Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, meragukan cerita Atlantis itu. Bagi Djamaluddin, kisah Atlantis itu hanya sekadar cerita, dengan nilai ilmiah yang minim.
Dengan kata lain, penjelasan Atlantis yang dilontarkan para peneliti selama ini masuk dalam pseudosains, atau ilmu semu. “Ini bukan ilmiah. Ini pseudosains. Antara cerita dengan fakta ilmiah itu bercampur di sana,” kata ilmuwan Indonesia, Thomas Djamaluddin, dalam perbincangan beberapa waktu lalu.
Tapi kata Djamaluddin, Atlantis tak lebih dari sekadar cerita karangan Plato yang melegenda. “Kalau itu dijadikan fakta ilmiah sejarah geologi, Plato itu hanya berdasarkan pemahaman dia. Plato tak menyebutkan data,” jelas Djamaluddin.
Peneliti lulusan lulusan Kyoto University, Jepang, itu juga menilai
sejarah geologi tak memperlihatkan Indonesia adalah Atlantis. “Tulisan sejenis Santos ini sudah beredar lama. Itu hanya dugaan saja,” ujarnya.
Awang Harun Satyana (Geologist)
Bantahan lain, misalnya datang dari geolog senior dari BP Migas, Awang Satyana.
Dalam satu acara bedah buku Santos, sekitar dua tahun silam, Awang
mengatakan Santos tak mengajukan bukti dan argumentasi geologi.
Sundaland, kata Awang, adalah paparan benua stabil yang tenggelam
15.000 – 11.000 tahun lalu oleh proses deglasiasi akibat siklus
perubahan iklim. “Bukan oleh erupsi volkanik. Erupsi supervolcano justru akan menyebabkan musim dingin dalam jangka panjang,” ujar Awang.
Bahkan soal migrasi manusia Sundaland ke sekujur bumi, kata Awang,
berlawanan dengan bukti penelitian migrasi manusia modern secara
biomolekuler.
Pakar geologi dari Universitas Padjajaran, Oki Oktariadi, mengingatkan dugaan lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia. Ada banyak wilayah seperti Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, dan lain-lain.
“Hasil penelitian terbaru oleh Kimura’s (2007) menemukan beberapa monumen batu di bawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria,” demikian paparan Oktariadi dalam makalahnya yang berjudul “Benarkah Sundaland itu Atlantis yang Hilang?“
Walau kebenarannya masih diragukan, bagi Oktariadi, penelitian itu
punya nilai positif bagi Indonesia. Setidaknya, negeri ini lebih dikenal
di dunia internasional, khususnya di antara para peneliti di berbagai
bidang. “Pemerintah Indonesia perlu menangkap peluang ini,” tulis
Oktariadi.
Mormon, Agama Capres AS Mendatang Mitt Romney, Mengundang Kontroversi Warga AS, Karena Ajaran Sesat?
“They day America elects
Morman, is the day when we realise how far this country stepped away
from its roots and true Christianity” (American Citizen)
Makin mengendusnya isu bakal calon Presiden Amerika untuk pemilihan
periode berikutnya yaitu saingan obama, dari partai republik Mitt
Romney.
Mitt Romney akan menjadi kandidat presiden pertama yang beragama
Mormon, keyakinan yang dianut sekitar enam juta warga Amerika tetapi
masih dipandang dengan sedikit curiga oleh sebagian umat agama lain.
Hal ini menyebabkan banyak warga AS tidak setuju dan tidak menghendaki presidennya menganut ajaran baru ini.
Mormon adalah agama sempalan yang menurut penganut Kristen Injily sebagai aliran sesat.
John F Kennedy adalah satu-satunya presiden AS beraliran Katolik,
sedangkan presiden AS lainnya beraliran Protestan. Dan kini, beraliran
Mormon?
Jadi, jika Mitt Romney terpilih menjadi presiden AS, maka ia akan
menjadi presiden AS pertama penganut aliran Mormon yang menurut para
penganut Kristen lainnya dianggap beraliran sesat tersebut.
Selengkapnya dilaporkan tim VOA dari Tampa, negara bagian Florida (video).
Agama Mormon didirikan kurang dari 200 tahun lalu oleh seorang yang
bernama Joseph Smith. Dia mengklaim telah menerima kunjungan pribadi
dari Allah Bapa dan Yesus Kristus dan menyatakan:
“Semua gereja dan pengakuan iman mereka adalah merupakan kekejian bagi Tuhan.”
Joseph memperkenalkan agama baru yang mengklaim sebagai “satu-satunya gereja yang benar di bumi ini.”
Masalahnya ajaran Mormonisme bertentangan dengan memodifikasi dan
mengembangkan Alkitab! Orang-orang Kristen tidak punya alasan untuk
percaya, bahwa Alkitab tidak benar dan tidak cukup.
Percaya kepada Allah berarti percaya kepada FirmanNya. Dan setiap
ayat Alkitab diinspirasikan oleh Allah, yang berarti berasal dari Allah
(2 Timotius 3:16).
Empat Sumber Firman
Para penganut Mormon percaya bahwa ada empat sumber firman yang diinspirasikan Allah dan bukan hanya satu, yaitu:
Joseph Smith, pendiri agama mormon pernah mengaku bertemu Tuhan Bapa dan Yesus (sumber berita: blog.chron.com).
1). Alkitab, “sejauh diterjemahkan dengan tepat.” Ayat-ayat mana yang diterjemahkan dengan tidak tepat tidak selalu jelas.
2) Kitab Mormon yang “diterjemahkan” oleh Smith dan diterbitkan pada
tahun 1830. Smith mengklaim kitab ini sebagai “kitab yang paling benar”
di dunia, dan dengan mengikuti aturan-aturannya orang dapat menjadi
lebih dekat kepada Allah dibanding dengan “mengikuti kitab-kitab lain.”
3). The Doctrine and Covenants (Doktrin dan Perjanjian) dianggap oleh
penganut Mormon sebagai kitab suci dan mengandung kumpulan wahyu modern
yang berkaitan dengan Gereja Yesus Kristus yang telah dipulihkan.”
4) The Pearl of the Great Price (Mutiara Yang Berharga) dianggap oleh
para penganut Mormon sebagai “klarifikasi” doktrin dan
pengajaran-pengajaran yang telah hilang dari Alkitab dan juga tambahan
informasi mengenai penciptaan bumi.
Penganut Mormon percaya hal-hal berikut ini tentang Allah:
“…bahwa Allah tidak selamanya merupakan Mahkluk yang Tertinggi dalam
alam semesta ini, namun Dia mencapai status itu melalui hidup yang benar
dan usaha yang terus menerus…”
Mereka percaya Allah Bapa memiliki “tubuh dari darah dan daging yang persis sama dengan yang dimiliki oleh manusia.”
Sekalipun kemudian ditinggalkan oleh pemimpin-pemimpin Mormon di
zaman modern, Brigham Young mengajarkan bahwa Adam sebenarnya adalah
Allah dan bapa dari Yesus Kristus.
Orang-orang Kristen mengetahui hal-hal berikut ini tentang Tuhan:
hanya ada Satu Allah yang sejati (Ulangan 6:4, Yesaya 43:10, 44:6-8),
bahwa Dia ada untuk selama-lamanya (Ulangan 33:27; Mazmur 90:2; 1
Timotius 1:17),
Dia tidak diciptakan, namun adalah Pencipta (Kejadian 1, Mazmur 24:1, Yesaya 37:16).
Allah sempurna dan tidak ada yang setara denganNya (Mazmur 86:8, Yesaya 40:25).
Allah Bapa bukanlah manusia dan tidak pernah merupakan manusia (Bilangan 23:19, 1 Samuel 15:29, Hosea 11:9).
Allah itu Roh (Yohanes 4:24) dan Roh tidak terbuat dari darah dan daging (Lukas 24:39).
Kerajaan Yang Beda Setelah Mati
Mormon percaya bahwa ada tingkatan atau kerajaan yang berbeda-beda
setelah kematian: Kerajaan Langit , Kerajaan Bumi dan Kerajaan Bintang
dan Kegelapan.
Di mana orang akan berada setelah mati bergantung pada apa yang
mereka percaya dan lakukan dalam hidup ini. Alkitab memberitahukan bahwa
setelah mati kita akan masuk Surga atau Neraka, tergantung pada apakah
kita beriman pada Yesus atau tidak.
Beralih dari tubuh ini berarti berada bersama dengan Tuhan (2 Korintus 5:6-8).
Orang yang tidak percaya akan masuk ke Neraka, atau alam maut (Lukas 16:22-23).
Ketika Yesus datang untuk kedua kalinya, kita akan menerima tubuh baru (1 Korintus 15:50-54).
Akan ada Langit Baru dan Bumi Baru untuk orang-orang percaya (Wahyu
21:1) dan orang-orang yang tidak percaya akan dilemparkan ke dalam
lautan api yang kekal (Wahyu 20:11-15).
Tidak ada kesempatan lain untuk penebusan setelah kematian (Ibrani 9:27).
Mitt Romney akan menjadi kandidat presiden pertama yang beragama Mormon,
keyakinan yang dianut sekitar enam juta warga Amerika tetapi masih
dipandang dengan sedikit curiga oleh sebagian umat agama lain.
Setiap Manusia Bisa Menjadi Tuhan
Ajaran Mormon selanjutnya, para pemimpin Mormon mengajarkan bahwa
inkarnasi Yesus adalah hasil hubungan fisik antara Allah Bapa dan Maria.
Mereka percaya bahwa Yesus adalah Allah, namun setiap manusia juga
dapat menjadi allah. Secara historis ke-Kristenan mengajarkan
Tritunggal/Trinitas dan bahwa Allah berada untuk selama-lamanya sebagai
Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:190).
Tidak seorangpun dapat menjadi Allah, hanya Allahlah yang kudus (1
Samuel 2:2). Kita hanya dapat menjadi suci dalam pandangan Allah melalui
iman kepadaNya (1 Korintus 1:2)
Yesus adalah satu-satuNya Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16) dan
satu-satunya yang pernah hidup tanpa dosa, tanpa cacat cela, dan
sekarang menduduki tempat yang paling terhormat di Surga (Ibrani 7:26).
Yesus dan Allah secara esensi adalah satu, Yesus adalah Dia yang
sudah ada sebelum dilahirkan secara fisik (Yohanes 1:1-8, 8:56).
Yesus memberi diriNya kepada kita sebagai korban, dan Allah
membangkitkan Dia dari antara orang mati dan kelak setiap orang akan
mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2:6-11).
Yesus memberitahu bahwa tidak mungkin seseorang masuk ke Surga
melalui perbuatan baiknya sendiri, hanya dengan iman di dalam Dia
barulah hal itu dimungkinkan (Matius 19:26).
Dan banyak orang tidak akan memilih dia. “Masuklah melalui pintu yang
sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada
kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya” (Matius 7:13).
Kita semua pantas menerima hukuman kekal untuk dosa-dosa kita,namun
kasih dan anugrah Allah yang tidak terbatas telah memberi jalan keluar
kepada kita. “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah
hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23).
Sudah jelas bahwa hanya ada satu cara untuk menerima keselamatan,
yaitu mengenal Allah dan PutraNya, Yesus (Yohanes 17:3). Bukan melalui
perbuatan, namun melalui iman (Roma 1:17; 3:28).
Ketika kita beriman, kita akan menaati hukum-hukum Tuhan dan
dibaptiskan karena mencintai Dia, bukan karena baptisan adalah syarat
untuk mendapat keselamatan. Kita menerima karunia ini siapapun kita atau
apapun yang sudah kita lakukan (Roma 3:22).
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam
Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan
kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah 4:12).
JADI: Sekalipun penganut Mormon biasanya adalah
orang-orang yang suka berkawan, pengasih dan baik, namun mereka ambil
bagian dalam agama yang sesat yang mengubah natur Allah, Pribadi dari
Yesus Kristus dan jalan keselamatan.
1. Siapkan uang Rp.10.000 yang bergambar Sultan Machmud Badarudin
2. Lalu lipat uangnya dari atas ke depan
3. Lipat juga bagian bawah ke depan
4. Lalu kita putar 180 derajat uang yang sudah dilipat tadi. dan lihatlah!
Segitiga yang terbentuk pada hasil lipatan tadi persis seperti:
Dengan lambang tulisan yang bentuknya bundar dan muter-muter seperti
membentuk "mata" iluminati seperti pada uang dollar amerika:
Kemudian jika kita teliti & terus cermati gambar yang ada di pinggir
gambar segitiga "illuminati" yang ada di uang Rp.10.000 kita, kita akan
menemukan gambar:
Gambar yang ada dalam lingkaran merah itu adalah Dewa Matahari dalam mitologi Satanis:
Apakah Mata Uang dinegara tercinta kita Indonesia ini sudah dibawah kekuasaan Kaum Zionis Satanis?
Ada Sesuatu di Uang Kertas Rp.50.000 WR Supratman Yang Tak Semua Orang Tahu
Benda ini sebagai alat tukar yang dulunya sering kita bawa
kemana-mana di dalam dompet, tapi belum tentu tak semua orang tahu ada
sesuatu yang micro di dalamnya…. kita langsung saja.
Ternyata di uang kertas lima puluh ribu Rupiah edisi WR Supratman,
sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia, telah lama ada ‘sesuatu’ yang
banyak orang tidak mengetahuinya. Apakah ‘sesuatu’ itu?
Perhatikan tanda panah pada gambar uang tersebut yang mengarah ke
lingkaran merah. Ternyata pada uang kertas Rp 50.000 edisi WR Supratman,
ada micro word di dalamnya.
Tulisan apakah itu? Silahkan di klik pada gambar untuk memperbesar dan mengetahui tulisan apakah itu?
Uang Rp 50.000 edisi WR Supratman
Wow! Ternyata dilembar uang kertas 50 ribu Rupiah edisi W.R.
Supratman sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia – yaitu Indonesia
Raya, juga terdapat micro word teks lagu kebangsaan Indonesia Raya hasil ciptaanya!
Ratna Sari Dewi: Wafat Bung Karno Pada Tahun 1970 Sengaja Diatur!
“Kematian Bung Karno sengaja diatur terjadi pada 1970, agar
Pemilu Indonesia di 1971 yang merupakan pemilu pertama yang digelar
pemerintahan Orde Baru, dapat terlaksana. Pelaksanaan Pemilu 1971,
secara politis tidak terkendala.” (Ratna Sari Dewi Soekarno a.k.a. Naoko
Nemoto)
Ratna Sari Dewi Soekarno, sudah lama tidak terdengar. Salah satu hal
menarik dari wanita asal Jepang itu, setiap kehadirannya di Jakarta
selalu menciptakan berita.
Kalau bukan soal kecantikan, yah pernyataannya. Dewi saat ini sudah
berusia 72 tahun, lahir 6 Februari 1940. Tapi penampilannya belum
seperti nenek-nenek.
Ia masih berdandan seperti wanita berusia 40-an tahun atau setengah
abad. Dandanannya masih tetap trendy dan sisa kecantikannya belum
hilang.
SBY dan Dewi Sukarno
Ketika demam Soekarno kembali muncul di Indonesia pada 1988 Dewi Soekarno pernah membuat pernyataan yang cukup mengejutkan.
Menurut dia, suaminya, Soekarno (Bung Karno) yang juga Proklamator RI, meninggal secara tidak wajar.
Kata wanita asal Jepang yang bernama asli Naoko Nemoto itu, kematian
Bung Karno sengaja diatur terjadi pada 1970, agar Pemilu Indonesia di
1971 yang merupakan pemilu pertama yang digelar pemerintahan Orde Baru,
dapat terlaksana. Pelaksanaan Pemilu 1971, secara politis tidak
terkendala.
Dewi menjelaskan, akan sangat janggal bagi penglihatan dunia
internasional jika Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto menggelar
Pemilu di 1971.
Sebab pada saat itu, Indonesia tengah memiliki Presiden Kembar:
Soekarno (de jure) dan Soeharto (de facto). Oleh karena itu sebelum
Pemilu 1971, Soekarno harus disingkirkan (dilenyapkan).
Soeharto dilantik menjadi presiden setelah mengeluarkan Supersemar ke presiden Sukarno
Pernyataan Dewi itu merupakan salah satu penggalan dari wawancaranya
dengan Tabloid Detak. Media yang dikelolah Eros Djarot, sutradara film
yang dikenal dekat dengan puteri Bung Karno, Megawati pada saat itu,
tidak berusia panjang.
Tabloid yang diterbitkan dari Gedung Prioritas, Jl.Gondangdia Lama,
Jakarta, tempat Surya Paloh menerbitkan harian Prioritas dan majalah
Vista ketika itu, kemudian menghentikan penerbitannya dan sebagian
krunya lalu meluncurkan media internet Detik Dotkom.
Dewi Sukarno a.k.a. Madame Syuga saat muda
Pernyataan Dewi tersebut tidak berhenti di situ. Ia menuduh, sebelum
meninggal, rezim militer sengaja mengisolasi Soekarno di Wisma Yaso,
sekarang Museum Mandala di Jl Gatot Subroto, Jakarta.
Pengucilan dimaksudkan agar suaminya itu mengalami kehidupan yang stress.
Setelah itu ada alasan untuk membawa Bung Karno ke rumah sakit.
Tapi Dewi yang saat Bung Karno menjalani kehidupan sebagai tahanan
rumah sedang mengasingkan diri di Paris, Prancis mengaku, mendapatkan
informasi tentang keadaan Bung Karno setelah ia mewawancarai para
pembantu yang merawat almarhum.
“Bapak (Soekarno) meronta dan berteriak-teriak bahwa dia tidak sakit,
ketika sejumlah dokter yang dikawal militer menjemputnya untuk dibawa
ke rumah sakit,” berkata Dewi kepada Tabloid Detak.
Pernyataan Dewi itu secara resmi tidak perah dibenarkan ataupun
dibantah oleh pemerintahan Orde Baru. Namun isunya kemudian tenggelam
dan dilupakan orang begitu saja.
Tapi boleh jadi akuntabilitas Dewi sebagai sumber berita melemah, sebab prilaku Dewi di masyarakat pun, banyak yang tidak patut.
Di 1992, Dewi dilaporkan pernah berkelahi di sebuah pesta dengan anak bekas Presiden Filipina, Minnie Osmena.
Dewi melempar wajah sosialita yang tinggal di Amerika Serikat itu
dengan gelas anggur menyebabkan wajah wanita asal Filipina itu harus
mendapat jahitan pengobatan. Dewi sendiri harus meringkuk di penjara
California selama 37 hari.
DEWI SUKARNO on BATH
Tidak lama berselang, pada 1994 Dewi meluncurkan sebuah buku yang
berisikan foto-foto tubuhnya yang tidak dibalut oleh sehelai benangpun.
Juga ada bagian-bagian yang diberi gambar tatoo.
Buku yang diberi judul Madame De Syuga itu seperti melunturkan reputasinya sebagai isteri Proklamator RI.
Walaupun buku itu dilarang beredar di Indonesia, tetapi gara-gara
sebagian isinya dikutip majalah What’s On Jakarta pengutipan itu
mengakibatkan citra Dewi di Indonesia menjadi kurang baik.
Dewi sendiri berdalih bahwa bukunya tidak berisikan gambar porno,
melainkan sekadar menggambarkan bahwa wanita yang sudah berusia hampir
setengah abad pun masih bisa memiliki tubuh yang indah, sexy dan
menarik.
Namun dalihnya tak bisa menghapus kesan negatif tentang dirinya.
Pada 2001, saat Megawati Soekarnoputri, anak tirinya, baru saja
menjadi Presiden RI, Dewi berkomentar singkat “Saya kira, Megawati
secara berangsur melakukan apa yang bisa dia lakukan,” katanya.
“Hanya saja memang tidak mudah bagi seorang wanita untuk menjadi
Presiden di negara yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam”.
Pernyataan Dewi tersebut sulit ditafsirkan apakah ia mendukung atau
meremehkan kemampuan Megawati selaku Presiden RI atau bagaimana?
Sulit ditafsirkan karena dari bahasa tubuhnya, di sisi lain, putri
tunggal kesayangannya Kartika Soekarno, sangat lengket dengan keluarga
Teuku Umar (Mega-Taufiq). Kedekatan Kartika dengan keluarga Teuku Umar
terlihat dari beberapa peristiwa.
Sutan Sjahrir, Sukarno dan Hatta
Kartika ikut serta dalam rombongan Presiden Megawati yang melakukan lawatan ke luar negeri.
Kartika selalu bersama Puan Maharani, putri Mega dan Taufiq.
Mereka duduk di kabin kepresidenan. Terpisah dari kabin kelas bisnis
yang diduduki rombongan Menteri, Anggota DPR dan para Pemimpin Redaksi.
Pada 2007, ketika Mega sudah menjadi mantan Presiden dan Kartika menikah di Belanda, Megawati secara khusus diundang.
Tapi yang mengudang Mega bukan Dewi sebagai orangtua. Melainkan
Kartika dan suaminya. Dewi sendiri saat ini menetap di kawasan Shibuya,
Tokyo, Jepang. Kalau sedang berada di Jakarta, jarang sekali atau bahkan
tidak pernah nampak berkumpul dengan keluarga Soekarno.
Tapi sekalipun begitu bukan Dewi Soekarno, kalau kehadirannya tanpa
berkumpul dengan keluarga Soekarno, lalu berlalu tanpa pemberitaan media
massa.
Sukarno speech
Dewi seakan punya kiat, setiap kali berada di Jakarta akan selalu menarik media untuk meliput atau mewawancarainya.
Dewi seperti punya Public Relations Officer Profesional yang
pintar mengatur acaranya di Jakarta agar tidak dilewatkan oleh media
begitu saja. Pada hari Minggu 13 Mei 2012 pukul 06:30, Dewi muncul di
program TalkIndonesia, MetroTV.
Dalam acara berbahasa Inggris yang dipandu Dalton Tanonaka, bekas
presenter CNN tersebut, Dewi diajak berbicara tentang bagaimana
seharusnya seorang Presiden RI berperan atau berprilaku.
Dalton, warga Amerika keturunan Jepang itu juga menghadirkan Ayu
Saraswati, seorang artis yang diberi label sebagai keponakan Prabowo
Subianto, sosok yang mengklaim sebagai pengagum Soekarno sekaligus salah
seorang kontender dalam Pilpres 2014.
Saat talk show berlangsung dan muncul gambar Soekarno yang
disusul Presiden SBY, terdapat sejumah pernyataan yang membandingkan era
sekarang dengan masa kepemimpinan Soekarno.
“Indonesia secara ekonomi masih tergolong negara miskin. Tapi di era
Soekarno, Indonesia disegani oleh bangsa-bangsa lain.” jelasnya.
Di era itu, kalau Presiden berbicara, rakyat mendengar apa yang dikatakan oleh pemimpinnya. Sekarang tidak !” Dewi menambahkan.
Dewi melalui di stasiun TV milik Surya Paloh, yang isterinya
blasteran Jepang itu, seakan menyindir Presiden SBY dan kepemimpinanya. [mdr/news.inilah.com/icc.wp.com]
***
Dalam sebuah surat semi puisi yang ditulis Bung Karno tanggal 6 Juni
1962, salah satu bagiannya yang sangat lembut, romantis, sekaligus
menggemparkan berbunyi:
“Kalau aku mati, kuburlah aku
di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku
cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia
meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama
aku.”
Isi surat tsb menunjukkan kesan
betapa kuatnya jalinan asmara antara Bung Karno dengan Ratna Sari Dewi,
yang bahkan kematian sekalipun tidak akan memisahkan jasad mereka. (Dikutip dari www.indonesiamedia.com)
***
Setelah Sukarno yang anti imperialis ingin agar bangsanya dapat merdeka
total dan mandiri lepas dari imperialis, kemudian digulingkan oleh
Soeharto dengan jebakan dari AS dan kemudian memimpin selama 32 tahun,
maka selanjutnya mereka semua (para presiden) tak bisa lagi berbuat
banyak untuk rakyat dan negaranya akibat tekanan dari negara-negara
barat yang pastinya mengancam akan meruntuhkan kebersamaan dan keutuhan
bangsa ini.
“Harta raja-raja Nusantara berupa
ratusan ribu ton emas dan harta lainnnya itu dibawa ke Belanda (sebagai
penjajah) dari Indonesia, kemudian Belanda kalah perang dengan Jerman,
maka Jerman memboyong harta itu ke negaranya. Lalu dalam perang dunia
kedua, Jerman kalah dengan Amerika, maka Amerika membawa semua harta itu
ke negaranya hingga kini"
“Bhinneka Tunggal Ika”
“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan, hana dharma mangrwa.” (pupuh 139, bait 5)
“Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, Mereka memang berbeda tapi bagaimanakah bisa dikenali, Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal, Terpecah belah tapi satu jualah, tiada kerancuan dalam kebenaran.”
***
Barang-barang Amanah Soekarno
Pada masa jayanya dahulu, kepulauan Nusantara terdiri dari ratusan
Kerajaan. Wilayah Nusantara (kini Indonesia) merupakan kawasan yang
paling diincar oleh semua kerajaan di dunia.
Keinginan semua kerajaan di dunia untuk merebut dan menguasai wilayah
Kepulauan Nusantara ini akibat adanya beragam kekayaan hasil alam di
daerah kepulauan terbesar di dunia tersebut.
Dari dalam tanah Nusantara terdapat berbagai macam tambang minyak dan logam, dalam lautnya juga terdapat minyak bumi dan sumber alam lainnya,
juga tanahnya yang subur sepanjang tahun siap ditanami kapan saja,
bukit yang kaya pasir dan bebatuan mineral, hingga di setiap puncak
gunungnya pun juga memiliki kekayaan dan keindahan tiada taranya.
Belum lagi dari kekayaan flora dan faunanya. Dari dalam lautnya
terdapat ikan dan hasil laut yang sangat berlimpah-ruah, didaratnya
terdapat ribuan jenis satwa yang sangat eksotik dan endemik.
Juga di hutannya yang terdiri dari ribuan jenis pohon yang hanya
terdapat di wilayah Nusantara ini, terdiri dari hutan lebat tropis
jutaan hektar, juga puluhan sungai besar mengalir di setiap pulaunya.
Wajar saja jika di wilayah kepulauan terbesar di dunia yang ada di
daerah tropis ini juga terdapat ratusan kerajaan yang makmur.
Kerajaan-kerajaan yang memiliki harta berupa emas, perak, perunggu,
platina, berlian dan batu mulia serta juga mutiara. Seluruh kekayaan
kerajaan Nusantara tersebut jika dikumpulkan beratnya mencapai ratusan
ribu bahkan bisa jutaan ton emas dan harta lainnya..! Namun
pertanyaannya, kemana semua harta kekayaan kerajaan-kerajaan Nusantara
tersebut?
Nusantara ancestral race of brown-copper skinned maritime Asian, usually
we call it according to lingusitic groups: The Austronesian.
Setelah masuknya orang Eropa (termasuk Belanda), kekayaan tersebut
seperti “disita” oleh kolonial dan hilang entah kemana. Untuk itulah,
maka beberapa tim dan individu mulai “mengorek” dan “menelusuri” jejak
kekayaan Kerajaan-Kerajaan Indonesia yang dulu ada di wilayah Nusantara
ini.
Layaknya film “Indiana Jones“, mereka mengumpulkan bukti
dari berbagai sumber yang terkait. Mulai dari dokumen dan cerita serta
berita, baik yang diperoleh di dunia nyata ataupun di dunia maya.
Berikut fakta-fakta yang sempat tercium dan terangkum oleh mereka
mengenai “the National Treasures of Indonesian Kingdoms“.
Emas di Bank Central
1. Pada awal abad 17, aset harta para Raja &
Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai,
Makasar, Bone, Goa, Luwut,Ternate, dLL,) dalam nilai ratusan trilyun
Dollar Amerika (dalam bentuk emas, logam mulia, berlian, dan srbagainya)
di simpan di Bank Zuchrigh, Jerman (karena pada saat itu Jerman adalah
negara makmur & menguasai dunia. Serta bank tersebut adalah salah
satu bank yang tertua di dunia)
2. Pada tahun 1620, Nusantara dijajah Belanda selama
3,5 abad. Bagi Kesultanan / Raja Nusantara yg melawan Belanda, data
administrasi harta di Bumi Nusantara dihanguskan, hanya bagi Kerajaan
Amangkurat I tetap memiliki data utuh, karena mereka penjilat Belanda
dimasa itu.
Catatan: Salah satu bukti Amangkurat I sebagai penjilat Belanda :
Pangeran Girilaya – Raja Cirebon II selaku menantu dari Raja Amangkurat
I, atas tipuan pada u “undangan makan”, ternyata Raja Cirebon II beserta
kedua putranya yang berumur 11 dan 9 tahun ditahan selama 10 tahun,
hingga wafatnya Raja Cirebon II yang dimakamkan di Girilaya. Atas
wafatnya Raja Cirebon II, Sultan Trunojoyo diutus untuk menjemput kedua
putra mahkota tersebut untuk menggantikan tahta Kerajaan Cirebon.
Dengan melalui peperangan, akhirnya Trunojoya berhasil membawa Putra
Mahkota dan kedua adiknya. Sedangkan Putra Mahkota yang
pertama/kakaknya, diamankan oleh paman dari Ibunya ke Gunung Lawu.
Hingga akhirnya berdiri Kerajaan Cirebon menjadi dua kesultanan, yaitu:
Kesultanan Kanoman dan Kesultanan Kasepuhan.
3. Pada tahun 1939, Amerika menyuruh Bung Karno untuk menata aset para Raja Nusantara dan mengalihkan hak atas nama pribadi Soekarno.
Catatan: a. PENYERAHAN HIBAH REKAYASA dilakukan oleh Raja Solo dan Yogyakarta
yang mengatasnamakan Raja-raja Nusantara. Selanjutnya aset kedua raja
tersebut utuh atau tidak dihibahkan. b. HAK AHLI WARIS Raja Nusantara, sepeserpun nihil (tdk menerima hak waris).
4. Pada tahun 1944, berdirilah Bank Dunia atas dasar
Colateral Aset Raja Nusantara! Bank Dunia mulai memberikan pinjaman
kepada 40 Negara. Maka semenjak itu USA semakin kuat untuk mencetak mata
uang dan menyusun strategi persenjataan yang berguna untuk menguasai
dunia.
5. Pada tahun 1945, saat Perang Dunia-II Jepang menyerah dan membuat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.
Beberapa fakta:
a. Bung Karno dalam salah satu pidatonya pernah
berkata “..kalau Jepang tidak memberikan kemerdekaan kepada kita, maka
saya akan minta USA utk membom Jepang..”
b. Bung Karno diangkat jadi ketua PBB. Bukankah pada
waktu itu orang asing banyak yang lebih pintar dari Bung Karno? Tak aneh
lagi, karena berdirinya Bank Dunia berasal dari aset Raja Nusantara.
Sampai saat ini, tidak ada jabatan Ketua PBB selain Bung Karno, yang ada
hanyalah Sekjen.
Catatan: Tahun 1945, untuk membangun negara, kalau Bung Karno jujur dan benar
(tidak ambisius), seharusnya mengumpulkan para Sultan dan Raja Nusantara
untuk diberi tahu jika para buyutnya (Raja Nusantara) pada abad-17,
menyimpan hartanya di Bank Juchrigh-Jerman. Kenapa Bung Karno bungkam?
6. Antara tahun 1950 – 1953, Bung Karno memberikan
pelimpahan coleteral kepada kolega & keluarganya, yang berasal dari
aset para Raja Nusantara yang dihibahkan atas nama pribadi Bung Karno.
Yang kini sudah pada balik nama.
7. Tahun 1954, sebagian sisa Dana Koleteral tsb
dibagikan dalam bentuk amanah kepada 73 orang Tokoh Negara & Ulama.
Karena ada kepentingan “politik praktis”. Tahun 1955 pemilu pertama,
Bung Karno diangkat Presiden “seumur hidup”
Catatan: a. Penerima “pelimpahan colateral” mendapatkan Royalti,
namun pemegang amanah tidak mendapatkan Royalti. Siapakah yang
menikmati royalti atas dana coleteral dari Bank Dunia? Siapa lagi kalau
bukan kolega & keluarganya.
b. Perlu pendirian “LEVARN” (Lembaga Executive Verifiksi Aset Raja Nusantra)
c. Maksud dan tujuan: Atas tersimpannya Aset Raja
Nusantra, baik milik Raja/Kesultanan: Cirebon, Pakuan, Banten, Deli,
Riau, Kutai, Makassar, Bone, Goa, Luwut, Ternate, dan lainnya, yang
disimpan pada awal Abad-17 di Bank Zuchrigh, Jerman dengan nilai ratusan
trliyun dollar Amerika yang telah dihibahkan ke pribadi Ir.Soekarno
(Rekyasa JO. AS) untuk modal awal pembentukan Bank Dunia, kini sudah
pada balik nama atas nama keluarga & koleganya (diluar amanah) ini
harus diverifikasi / tata Juridis Formil untuk ketetapan hak bagi ahli
waris dan negara.
d. Dalam pertemuan para Sultan se-Indonesia di Bali
pada tahun 2000-an lalu. Selaku ahli waris mengharapkan keadilan hak
atas harta yang digelapkan. Sehingga para pemegang amanah dan lainnya
menyadari atas keganjilan hibah tersebut.
8. Mengapa Bung Karno keluar dari PBB &
pidatonya antara tahun 1959 sampai dengan 1963, berapi-api anti
imperialis, anti nekolim? Karena coleteralnya ternyata tidak bisa
dicairkan dan digunakan untuk pembangunan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan REPELITA yg telah diprogram. Alias dipersulit oleh
Amerika.
9. Amerika berkepentingan untuk membungkam Bung Karno,
selain karena alasan dana coleteral tersebut, juga karena Bung Karno
membentuk “Poros Segitiga” Peking-Jakarta-Pyongyang. Selanjutnya melalui
konspirasi & tipu daya, AS bertindak sebagai dalang atas lengsernya
Bung Karno.
10. Tiga orang Jenderal terlibat dalam gerakan bawah tanah buatan AS, datang dan menodongkan senjata kepada Bung Karno untuk menandatangani SUPERSEMAR.
Catatan:
Kemudian isi Supersemar diubah (dipalsukan) dan diserahkan kepada
Soeharto. Soeharto tidak mengetahui tentang pemalsuan Supersemar
tersebut dan menjalankan Supersemar dengan baik. Soeharto baru
mengetahui hal tersebut sekitar tahun 1980-an. Namun sudah terlambat dan
sejarah sudah terlanjur dituliskan.
11. Tahun 1967, Soekarno lengser & Soeharto menjabat sebagai Presiden RI.
12. Sekitar tahun 1995, tujuh orang pemegang Surat
Amanah dari Soekarno, menghadap Soeharto agar Pemerintah dapat
menggunakan Dana Coletral tersebut untuk pembangunan Indonesia.
Catatan: Dana Coletral tersebut (yang ada di Bank Dunia) tidak dapat dicairkan,
namun dapat digunakan untuk “jaminan cetak uang”. Soeharto mengajukan
ijin utk pencetakan uang Rupiah atas jaminan Dana Coletral tersebut.
13. Dilakukan Sidang Moneter Internasional, dengan
salah satu agenda untuk membahas rencana pencetakan uang Rupiah oleh
pemerintah RI. Sepuluh negara menolak untuk memberikan ijin (termasuk AS
& sekutunya), sisanya mengijinkan. Atas dasar voting, maka
pemerintah RI diijinkan utk mencetak uang sebesar “Rp. 20.000 trilyun”
dengan jaminan lima Coleteral (Salah satu Coleteral tsb adalah milik
Kerajaan Cirebon sebesar 13.000 trilyun)
Catatan: AS tdk memberikan ijin, karena khawatir Soeharto akan membangkitkan
DUNIA ISLAM. Karena thn 1987 Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila sudah
mulai merintis dan menggalakkan bantuan untuk pembangunan masjid di
seluruh Indonesia. Mbak Tutut sudah mulai memakai kerudung &
dianggap sebagai simbol kebangkitan dunia Islam.
14. Pencetakan uang dilakukan di Jerman & Israel
(pemenang tender adalah Australia). Disisi lain AS & sekutunya
mulai melakukan konspirasi untuk merusak stabilitas Ekonomi
Internasional.
15. Maret 1997, secara bertahap IDR (Indonesia
Rupiah) sdh mulai masuk ke Indonesia (masih berstatus atas nama Amanah
yang ditempatkan di luar gudang BI). Baru sekitar 9% IDR tsb yg
diregristasi oleh BI, terjadilah “krisis moneter” karena George Soros
melakukan transaksi “pembelian Rupiah” secara besar-besaran yang dibayar
dengan US Dollar. IDR dicetak dalam cetakan uang plastik pecahan
Rp.100.000,- tahun cetakan 1997.
Catatan: Pak Harto berencana dalam periode tahun 1998 – 2003, Try Sutrisno
menjabat sebagai Wakil Presiden. Tahun 2000 Pak Harto membuat pondasi
sebagai landasan kuat dalam pembangunan tinggal landas untuk take off
menuju adil & makmur. Tahun 2002, Pak Harto berencana untuk
mengundurkan diri dan dilanjutkan oleh wakilnya Try Sutrisno sebagai
presiden.
16. Amerika semakin gencar melakukan konspirasi, sadar atau tidak sadar banyak unsur masyarakat yang sudah masuk dalam tipu daya dan skenario AS.
Catatan:
a. Banyak mahasiswa dan rakyat yang merasa idealis
dan menuntut lengsernya Soeharto. Namun sesungguhnya mereka tidak sadar
bahwa ini semua adalah skenario AS untuk menurunkan Soeharto.
b. Beberapa “tokoh boneka politik” bentukan AS, yaitu empat orang yang dikenal dengan sebutan “SMAG” c. Terjadinya Kerusuhan Mei, yang dikoordinir oleh seorang tokoh pemuda atas cetakan SMAG.
17. Mei 1998, Soeharto lengser dan BJ Habibie menjabat sebagai presiden RI.
18. Semua mata uang Rupiah pada akhirnya sampai di Indonesia,
Pak Harto memerintahkan 49 orang jenderal (7 orang Jenderal Bintang
empat dan 42 orang Jenderal Bintang dua) untuk mengamankan gudang-gudang
IDR yang masih berstatus atas nama Amanah.
19. BJ Habibie dipolitisir oleh AS untuk merealisasi Referendum di TimTim,
dengan janji apabila terlaksana dengan ‘jujur dan adil’ maka Habibie
akan didukung untuk menjabat sebagai Presiden RI untuk periode
selanjutnya.
Catatan: Habibie ditipu mentah oleh AS dan sekutunya. Hasil jajak pendapat Timor
Timur dimanipulasi (termasuk yang dihitung di Gedung Putih-AS, tidak
dihitung di lapangan) dan berujung pada lepasnya Timor Timur dari NKRI.
Itulah jatuhnya Habibie akibat dampak tertipu politik praktis. Karena
Habibie sejatinya bukan orang “misi AS”, melainkan Habibie adalah
“Jerman-isme”.
20. Rapuhnya Pemerintahan RI dan perekonomiannya
akibat “Mafia Berkeley” dan sebagian besar tokoh-tokoh negara terlibat
dalam dosa “Kerusuhan Mei”. Amerika memegang kartu tokoh-tokoh negara
tersebut, lalu leluasa untuk mendikte pemerintah. Boleh dikata, semenjak
itu pemerintahan hanya menjadi “boneka AS” dan tdk mampu untuk lepas
dari cengkraman AS.
21. Jadi dari semuanya: a. Kebenaran ini dituliskan bukan utk menyudutkan PIHAK-PIHAK TERTENTU, namun utk MENEGAKKAN SEBUAH KEBENARAN. b. Bangsa Indonesia sangat beruntung telah memiliki 2 orang PUTRA TERBAIKNYA yaitu SOEKARNO & SOEHARTO. c. Rapatkan barisan, jangan mudah teradu domba oleh
KONSPIRASI AS & sekutunya. Tumbuhkan jiwa patriotik kita, karena
bisa jadi melalui konspirasi AS, perang Afganistan dan Irak juga dapat
terjadi di Tanah Air yg kita cintai ini. Juga perang antar suku dan
golongan di dalam negeri seperti di negara-negara Afrika, Korea Utara –
Selatan, Vietnam Utara-Selatan, Bosnia, Mesir, Libya dan lain-lain. d. Atas Cronologis harta Soekarno tersebut, pada
prinsipnya kita para “pemegang amanah” dan penerima “pelimpahan
Colateral”, perlu untuk menyadari bahwa pelaksanaan “Hibah Aset Raja
Nusantara kepada pribadi Bung Karno adalah “CACAT HUKUM” e. Jadi masalah Barang dan Harta Amanah Bung Karno
bukan urusan kita, melainkan urusan “karuhun”? Itu semua hanya panggung
sandiwara. (Sumber : indonesiaindonesia)
*****
Harta Rakyat Indonesia Sirna Oleh Rekomendasi Negara-negara Kolompok G-20
“Considering this statement, which was written and signed in
November 21th 1963, while the new certificate was valid in 1965 all the
ownership, then the following total volumes were just obtained.”
Itulah sepenggal kalimat yang menjadi berkah sekaligus kutukan bagi
bangsa Indonesia hingga kini. Kalimat itu menjadi kalimat penting dalam
perjanjian antara Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dengan
Soekarno pada 1963.
Wilayah negara G-20 berwarna biru
Soekarno dan John F. Kennedy Banyak pengamat Amerika melihat perjanjian yang kini dikenal dengan nama “The Green Hilton Agreement”
itu sebagai sebuah kesalahan bangsa Amerika. Tetapi bagi Indonesia,
itulah sebuah kemenangan besar yang diperjuangkan Bung Karno. Sebab
volume batangan emas tertera dalam lembaran perjanjian itu terdiri dari
17 paket sebanyak 57.150 ton lebih emas murni..!
Bahasa lain yang sering dikemukakan Bung Karno kepada rekan
terdekatnya, bahwa ia ingin harta nenek moyang yang telah dirampas oleh
imprealisme dan kolonialisme dulu bisa kembali.
Tetapi perjanjian yang diteken itu, hanya sebatas pengakuan dan
mengabaikan pengembaliannya. Sebab Negeri Paman Sam itu mengambilnya
sebagai harta rampasan Perang Dunia I dan II.
Konon cerita, harta raja-raja Nusantara berupa ratusan ribu ton emas
dan harta lainnnya itu dibawa ke Belanda (sbg penjajah) dari Indonesia,
kemudian Belanda kalah perang dengan Jerman, maka Jerman memboyong
harta itu ke negaranya. Lalu dalam perang dunia kedua, Jerman kalah
dengan Amerika, maka Amerika membawa semua harta itu ke negaranya hingga
kini.
Perjanjian itu berkop surat Burung Garuda bertinta emas di bagian
atasnya yang kemudian menjadi pertanyaan besar pengamat Amerika. Yang
ikut serta menekan dalam perjanjian itu tertera John F. Kennedy selaku
Presiden Amerika Serikat dan William Vouker yang berstempel “The President of The United State of America” dan dibagian bawahnya tertera tandatangan Soekarno dan Soewarno berstempel “Switzerland of Suisse”.
Yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah, mengapa Soekarno tidak
menggunakan stempel RI?. Pertanyaan itu sempat terjawab, bahwa beliau
khawatir harta itu akan dicairkan oleh pemimpin Indonesia yang korup,
suatu saat kelak.
Perjanjian yang oleh dunia moneter dipandang sebagai pondasi
kolateral ekonomi dunia hingga kini, menjadi perdebatan panjang yang tak
kunjung selesai pada kedua negara, Indonesia dan Amerika. Banyak para
tetua dan kini juga anak muda Indonesia dengan bangganya menceritakan
bahwa Amerika kaya karena dijamin harta rakyat Indonesia.
Bahkan ada yang mengatakan, Amerika berhutang banyak pada rakyat
Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah dan bukan punya
negara Indonesia, melainkan “harta rakyat Indonesia”. Tetapi, bagi
bangsa Amerika, perjanjian kolateral ini dipandang sebagai sebuah
kesalahan besar sejarah Amerika.
The Green Hilton Agreement 1963 Barangkali ini pulalah penyebab, mengapa Bung Karno kemudian dihabisi
karir politiknya oleh Amerika sebelum berlakunya masa jatuh tempo The Green Hiltom Agreement. Ini berkaitan erat dengan kegiatan utama Soeharto ketika menjadi Presiden RI ke-2.
Dengan dalih sebagai dalang Partai Komunis Indonesia atau PKI, banyak
orang terdekat Bung Karno dipenjarakan tanpa pengadilan seperti
Soebandrio dan lainnya. Menurut tutur mereka kepada pers, ia dipaksa
untuk menceritakan bagaimana ceritanya Bung Karno menyimpan harta nenek
moyang di luar negeri. Yang terlacak kemudian hanya “Dana Revolusi” yang
nilainya tidak seberapa. Tetapi kekayaan yang menjadi dasar perjanjian The Green Hilton Agreement ini hampir tidak terlacak oleh Soeharto, karena kedua peneken perjanjian sudah tiada.
Kendati perjanjian itu mengabaikan pengembaliannya, namun Bung Karno
mendapatkan pengakuan bahwa status kolateral tersebut bersifat sewa (leasing).
Biaya yang ditetapkan Bung Karno dalam perjanjian sebesar 2,5% setahun
bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya. Dana
pembayaran sewa kolateral ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas
nama The Heritage Foundation yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas restu yang dimuliakan Sri Paus Vatikan.
Namun karena Bung Karno “sudah tiada” (wallahuallam), maka yang
ditunggu adalah orang yang diberi kewenangan olehnya. Namun sayangnya,
ia hanya pernah memberikan kewenangan pada satu orang saja di dunia
dengan ciri-ciri tertentu. Dan inilah yang oleh kebanyakan masyarakat
Indonesia, bahwa yang dimaksudkan adalah “Satria Piningit” yang kemudian
disakralkan, utamanya oleh masyarakat Jawa. Tetapi kebenaran akan hal
ini masih perlu penelitian lebih jauh.
April 2009, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation
sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5% ditetapkan dari
total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 34 tahun hasil
biaya sewanya saja sudah setera 48.577 ton emas..!
Artinya kekayaan itu sudah menjadi dua kali lipat lebih, dalam kurun
kurang dari setengah abad atau setara dengan USD 3,2 Trilyun atau Rp
31.718 Trilyun, jika harga 1 gram emas Rp 300 ribu. Hasil lacakan
terakhir, dana yang tertampung dalam rekening khusus itu jauh lebih
besar dari itu. Sebab rekening khusus itu tidak dapat tersentuh oleh
otoritas keuangan dunia manapun, termasuk pajak.
Karenanya banyak orang-orang kaya dunia menitipkan kekayaannya pada
account khusus ini. Tercatat mereka seperti Donald Trump, pengusaha
sukses properti Amerika, Raja Maroko, Raja Yordania, Turki, termasuk
beberapa pengusaha besar dunia lainnya seperti Adnan Kassogi dan Goerge
Soros. Bahkan Soros hampir menghabiskan setengah dari kekayaannya untuk
mencairkan rekening khusus ini sebelumnya.
Pihak Turki malah pernah me-loby beberapa orang Indonesia untuk dapat
membantu mencairkan dana mereka pada account ini, tetapi tidak
berhasil. Para pengusaha kaya dari organisasi Yahudi malah pernah
berkeliling Jawa jelang akhir 2008 lalu, untuk mencari siapa yang diberi
mandat oleh Bung Karno terhadap account khusus itu. Para tetua ini
diberi batas waktu oleh rekan-rekan mereka untuk mencairkan uang
tersebut paling lambat Desember 2008. Namun tidak berhasil.
Usaha pencairan rekening khusus ini bukan kali ini saja, tahun 1998
menurut investigasi yang dilakukan, pernah dicoba juga tidak berhasil.
Argumentasi yang diajukan tidak cukup kuat.
Dan kini puluhan bahkan ratusan orang dalam dan luar negeri mengaku
sebagai pihak yang mendapat mandat tersebut. Ada yang usia muda dan ada
yang tua. Hebatnya lagi, cerita mereka sama. Bahwa mereka mengaku
penguasa aset rakyat Indonesia, dan selalu bercerita kepada lawan
bicaranya bahwa dunia ini kecil dan dapat mereka atur dengan kekayaan
yang ia terima. Diantaranya ada yang mengaku anak Soekarno, lebih parah
lagi, ada yang mengaku Soekarno sunggguhan tetapi kini telah berubah
menjadi muda. Wow..!
Padahal, hasil penelusuran penulis. Bung Karno tidak pernah
memberikan mandat kepada siapapun. Dan setelah tahun 1965, Bung Karno
ternyata tidak pernah menerbitkan dokumen-dokumen atas nama siapapun.
Sebab setelah 1963 itu, pemilik harta rakyat Indonesia menjadi tunggal,
ialah Bung Karno itu sendiri. Namun sayang, CUSIP Number (nomor
register World Bank) atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah yang
kemudian dimanfaatkan kalangan banker papan atas dunia untuk menerbitkan
surat-surat berharga atas nama orang Indonesia.
Pokoknya siapapun, asal orang Indonesia ber-passport Indonesia dapat
dibuatkan surat berharga dari UBS, HSBC dan bank besar dunia lainnya.
Biasanya terdiri dari 12 lembar, diantaranya ada yang berbentuk Proof of
Fund, SBLC, Bank Guransi, dan lainnya. Nilainya pun fantastis,
rata-rata diatas USD 500 juta. Bahkan ada yang bernilai USD 100
milyar..!
Ketika dokumen tersebut dicek, maka kebiasaan kalangan perbankkan akan mengecek CUSIP Number. Jika memang berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut. Biasanya kalangan perbankkan akan memberikan Bank Officer khusus bagi surat berharga berformat ini dengan cara memasan Window Time untuk sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut akan ditransaksikan.
Biasanya dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau lazim dibuatkan rooling program atau private placement yang bertempo waktu transaksi hingga 10 bulan dengan high yeild berkisar antara 100 s/d 600 % setahun. Uangnya hanya bisa dicairkan untuk proyek kemanusiaan.
Makanya, ketika terjadi musibah tsunami di Aceh dan gempa besar
lainnya di Indonesia, maka jenis dokumen ini beterbangan sejagat raya
bank. Tapi anehnya, setiap orang Indonesia yang merasa namanya tercantum
dalam dokumen itu, masih miskin saja hingga kini. Mengapa? Karena
memang hanya permainan banker kelas kakap untuk mengakali bagaimana
caranya mencairkan aset yang terdapat dalam rekening khusus itu.
Melihat kasus ini, tak heran bila banyak pejabat Indonesia termasuk
media massa Indonesia menyebut “orang gila” apabila ada seseorang yang
mengaku punya harta banyak, milyaran dollar Amerika Serikat. Dan itulah
pula berita yang banyak menghiasi media massa. Ketidakpercayaan ini satu
sisi menguntungkan bagi keberadaan harta yang ada pada account khusus
ini, sisi lain akan membawa bahaya seperti yang sekarang terjadi. Yakni,
tidak ada pembelaan rakyat, negara dan pemerintah Indonesia ketika
harta ini benar-benar ada.
Kisah sedih itu terjadi. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) ikut serta dalam pertemuan G20 April silam. Karena Presiden SBY
tidak pernah percaya, atau mungkin ada hal lain yang kita belum tau,
maka SBY ikut serta menandatangani rekomendasi G20. Padahal tandatangan
SBY dalam sebuah memorandum G-20 di London itu telah diperalat oleh
otoritas keuangan dunia untuk menghapuskan status harta dan kekayaan
rakyat Indonesia yang diperjuangkan Bung Karno melalui kecanggihan
diplomatik. Mengapa? Karena isi memorandum itu adalah seakan memberikan
otoritas kepada lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan baru bagi mengatasi keuangan global yang paling terparah dalam sejarah ummat manusia.
Atas dasar rekomendasi G20 itu, segera saja IMF dan World Bank
mendesak Swiss untuk membuka 52.000 rekening di UBS yang oleh mereka
disebut aset-aset bermasalah. Bahkan lembaga otoritas keuangan dunia
sepakat mendesak Vatikan untuk memberikan restu bagi pencairan aset yang
ada dalam The Heritage Foundation demi menyelamatkan ummat manusia.
Memang, menurut sebuah sumber terpercaya, ada pertanyaan kecil dari
Vatikan, apakah Indonesia juga telah menyetujui? Tentu saja, tandatangan
SBY diperlihatkan dalam pertemuan itu. Berarti sirnalah sudah harta
rakyat dan bangsa Indonesia.
Barangkali inilah kesalahan dan dosa SBY serta dosa kita semua yang
paling besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Sebab, bila SBY dan kita
sepakat untuk paham akan hal ini, setidaknya ada geliat diplomatik
tingkat tinggi untuk mencairkan aset sebesar itu. Lantas ada pertanyan:
Sebodoh itukah kita…?
*****
G-20: Presiden Sampaikan Proposal Indonesia
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan proposal Indonesia pada sesi Working Breakfast
KTT G-20, di ExCel London, Inggris, Kamis (2/4) pagi waktu setempat
atau petang di Indonesia. Presiden SBY duduk bersebelahan dengan
Presiden AS Barack Obama. Indonesia mendukung terjadinya kesepakatan
dalam empat isu penting.
Keempat isu itu adalah pentingnya stimulus fiskal maupun kebijakan
moneter. Kedua, koreksi terhadap kegagalan regulasi dan supervisi yang
mengakibatkan krisis global. Ketiga, perlu bantuan dana bagi negara
berkembang yang menjadi korban tak berdosa. Keempat, reformasi terhadap
lembaga keuangan internasional.
Indonesia sudah mendiskusikan sikapnya itu dengan negara-negara
peserta KTT G-20, melalui serangkaian pertemuan bilateral yang dipimpin
SBY. Sehari sebelum puncak acara KTT, Presiden SBY juga menyampaikan
proposal Indonesia kepada Barack Obama, yang ramah menyapa SBY dalam
beberapa kosa kata Indonesia. (presidensby.info)
usulan Indonesia adalah Global Expenditure Support Financing (GESF)
seusia dengan :
Manfaatnya Bagi Pemerintah Indonesia
Selasa, 31 Maret 2009 | 04:24 WIB
Anggito Abimanyu
Konferensi Tingkat Tinggi G-20 Kedua di London (London Summit) akan
dilaksanakan minggu ini, 1 dan 2 April 2009, di tengah situasi
perekonomian global yang masih tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi global
tahun 2009 diperkirakan akan negatif yang berpengaruh terhadap
penurunan demand ekspor negara berkembang. Stimulus fiskal dari sejumlah
negara masih diragukan efektivitasnya akibat munculnya isu
proteksionisme dan isu supply financing bagi program stimulus di negara
berkembang.
Selain itu, sistem keuangan global secara praktis masih belum
berfungsi secara normal akibat proses deleveraging di negara maju yang
mengakibatkan langkanya likuiditas internasional dan turunnya net
capital inflow ke negara berkembang secara drastis. Sistem keuangan,
khususnya di negara maju, masih dihantui potensi kerugian yang belum
sepenuhnya terungkap terkait toxic assets sistem perbankan akibat krisis
mortgage di AS. Lembaga-lembaga keuangan internasional yang diharapkan
menjadi katalisator dalam periode krisis ternyata efektivitasnya
dibebani oleh masalah kredibilitas dan legitimasi akibat kurangnya
keterwakilan negara berkembang dalam proses governance-nya (lihat Tabel
1: Pertumbuhan Ekonomi).
Akibat besarnya jangkauan isu yang dihadapi itu, banyak pihak
mempertanyakan kemampuan G-20 mengatasi krisis. Lebih jauh lagi,
terdapat pula keraguan mengenai kohesivitas di G-20 mengingat setiap
anggota tentunya akan memperjuangkan isu yang terkait paling erat dengan
kepentingannya dan hal itu akan berdampak pada respons, prioritas, dan
pendekatan krisis yang berbeda. Bagi publik domestik, hal tersebut
memunculkan pertanyaan mengenai manfaat yang akan diperoleh Indonesia
dari partisipasinya di forum G-20 akibat kekhawatiran mengenai kooptasi
isu di G-20 oleh negara maju.
Respons G-20
Terlepas dari banyaknya isu yang harus dibahas, London Summit sendiri
sebetulnya merupakan puncak dari suatu siklus kerja di G-20. Di tingkat
teknis, G-20 telah membagi isu ke dalam berbagai tingkat pembahasan
yang beranggotakan otoritas finansial dan moneter negara anggota yang
melakukan koordinasi intensif selama 7 x 24 jam.
Terkait dengan instrumen krisis, regulasi, dan arsitektur keuangan
internasional, G-20 membentuk empat kelompok kerja (working group/WG):
(i) Enhancing sound regulation and transparency, (ii) Promoting integrity in the financial markets, (iii) IMF reform, dan (iv) Multilateral development banks (MDBs) reform.
Selain itu, terdapat juga forum koordinasi di tingkat deputi menteri
keuangan dan gubernur bank sentral G-20 guna membahas kebijakan makro
(fiskal dan moneter), serta forum sherpa yang bertugas membahas isu-isu
ekonomi nonkeuangan dan moneter (seperti isu perdagangan, dan tenaga
kerja).
Walaupun terdapat kekhawatiran bahwa perbedaan kepentingan di antara
anggota G-20 akan menyebabkan friksi, keanggotaan G-20 yang terbatas dan
format pertemuan yang stabil selama satu dasawarsa terakhir
berkontribusi bagi terbentuknya tingkat kepercayaan di antara anggota
G-20 dalam rangka mencapai konsensus.
Secara umum terdapat konvergensi di G-20 bahwa: (i) krisis saat ini disebabkan oleh ketidaksepadanan
antara kepentingan global dan nasional (sovereign policy) sehingga
respons kebijakan domestik haruslah mempertimbangkan dampak di luar
batas negara dan perlunya koordinasi respons secara global; (ii) krisis menimpa baik negara maju maupun berkembang
melalui mekanisme yang berbeda sehingga membutuhkan respons yang berbeda
pula; dan (iii) krisis juga diakibatkan oleh tidak memadainya
arsitektur keuangan global (termasuk lembaga keuangan multilateral)
dalam merespons krisis secara efektif akibat masalah kredibilitas dan
legitimasi sehingga perlu dilakukan reformasi terhadap sistem keuangan
internasional.
Berdasarkan kesadaran tersebut, G-20 membagi prioritas respons
menjadi tindakan segera dan jangka menengah berdasarkan perbedaan
urgensi dari setiap isu (lihat Tabel 2: Langkah Bersama).
G-20 bagi Indonesia
Secara umum, di G-20 Indonesia memiliki posisi unik yang menyuarakan
tidak hanya kepentingan Indonesia sebagai emerging market, tetapi juga
kepentingan ASEAN dan negara berkembang lainnya termasuk Low Income
Countries.
Manfaat G-20 sangat besar bagi Indonesia tidak hanya untuk mengungkil
posisi kita di antara negara berkembang lainnya, tetapi terlebih karena
Indonesia bisa secara langsung berpartisipasi dalam membentuk
arsitektur ekonomi dan finansial global sesuai dengan kepentingan kita,
G-20 diarahkan untuk menggantikan fungsi dari G-8 sebagai pemerintahan
bayangan dari sistem ekonomi dan finansial global.
Fokus Indonesia sendiri di G-20 adalah untuk: (i) memitigasi dampak krisis terhadap Indonesia dan
negara berkembang yang telah secara tidak adil terkena dampak dari
krisis yang bermula di negara maju melalui penurunan aliran modal ke
negara berkembang yang menghambat proses pembangunan dan pencapaian
tujuan pembangunan milenium (MDGs); (ii) mengamankan posisi Indonesia dan negara berkembang
di dalam sistem ekonomi dan finansial global yang baru dengan mencegah
terbentuknya standar regulasi yang berpotensi merugikan perkembangan
sektor keuangan dan sebaliknya justru mengupayakan agar sistem yang baru
mendukung pengembangannya; (iii) mendorong dilakukannya reformasi lembaga keuangan
internasional melalui peningkatan keterwakilan negara berkembang dalam
proses governance.
Sebagai implementasi, Indonesia secara konsisten memperjuangkan
dibentuknya instrumen pendanaan yang murah, bersifat tanpa persyaratan
dan percepatan pencairan yang diperuntukkan bagi negara berkembang
dengan kerangka kebijakan dan fundamental yang baik seperti Indonesia.
Proposal tersebut yang dikenal sebagai Global Expenditure Support
Financing (GESF) telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
dalam Washington Summit tahun lalu. Sebagai penghargaan terhadap
proposal Yudhoyono tersebut, Indonesia bersama dengan Perancis ditunjuk
oleh G-20 untuk mengetuai WG4 mengenai reformasi MDBs yang salah satu
pembahasannya adalah mengenai instrumen itu.
Terkait dengan reformasi IMF, Indonesia juga memegang peranan penting
di G-20 karena Menteri Keuangan RI sebagai salah satu figur
internasional yang kerap menyuarakan urgensi reformasi IMF merupakan
anggota independent panel of experts on IMF reform (yang dikenal sebagai
Manuel Commission) yang hasil rekomendasinya menjadi salah satu acuan
bagi pembahasan di G-20.
G-20 flags
Sebagai hasil partisipasi aktif di G-20, Indonesia telah berhasil memetik beberapa manfaat konkret, antara lain:
(i) Indonesia masuk sebagai anggota baru Financial Stability Forum (FSF) yang merupakan standard setting body bagi sistem keuangan;
(ii) Indonesia telah mendapatkan Deferred Drawdown
Option (DDO) dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), Jepang, dan
Australia bagi program pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan
infrastruktur yang kemudian menjadi model bagi GESF;
(iii) G-20 yang merupakan pemegang saham terbesar di
ADB berkomitmen untuk meningkatkan permodalan ADB guna mendorong
pembangunan di kawasan Asia; dan
(iv) negara maju berkomitmen untuk memberikan peningkatan kapasitas bagi pengembangan sektor keuangan di negara berkembang.
Terdapat juga manfaat nonkeuangan, seperti komitmen G-20 untuk menjamin dan melindungi hak pekerja migran.
Anggito Abimanyu Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Depkeu dan Co-Chair Working Group 4 G-20
From 1944/5 – 1994/5 The Trilateral
Trillenium Tripartite Gold Commission (TTTGC) was organised and
implemented, by the Nations of the World, with a Term period of Fifty
(50) years. During this term period the Commission held the Mandate,
Rights and Authorities over The Combined International Collateral
Accounts of the Global Debt Facility. (Note: This Commission should not
be confused with the Trilateral Commission that exists today).
Following the expiry of the 50 year term,
the Nations of the World, disappointed with the biased way The Combined
International Collateral Accounts had been utilised within the 50 years,
agreed not to extend the term of the TTTGC, but instead appointed a
single independent person to the position of International Treasury
Controller with full rights, authority, and legal ownership of the
Combined International Collateral Accounts.
On January 20th 1995, Dr. Ray C. Dam was
appointed International Treasury Controller, and Legal Heir and Owner of
the Combined International Collateral Accounts of the Global Debt
Facility, with full authority and dispositional control of same, under
Legal Decadency RCD 1088, executed by the Nations of the World.
Also established on January 20, 1995 was
The Office of International Treasury Control, as the management,
administrative and operations organization for His Excellency, Dr. Ray
C. Dam.
Dr. Ray C. Dam is a person, but His
Excellency Dr. Ray C. Dam is a certified and indemnified international
Central Banking financial institution operating as The Office of
International Treasury Control.
Following the confirmation of the Powers
and Authorities of His Excellency Dr. Ray C. Dam by the “Washington
Panel” in 1998, the establishment of the Institution —- The Office of
International Treasury Control —- was completed on January 20, 2003,
whereby, based upon the content and requirements of numerous
International Treaties, The Office of International Treasury Control was
granted Sovereign Entity Status under the United Nations Charter
Control No: 10-60847.
Though not generally or publicly known,
OITC is the largest International Institution of its kind. It is the
largest single owner of gold and platinum bullion in the World, in
addition to being a major owner of Bank Debenture Securities,
International Treasuries, Cash and other forms of securities, all of
which are recorded as assets of the Combined International Collateral
Accounts of the Global Debt Facility, whose accounts are held within the
Federal Reserve, The Bank for International Settlements, The US
Treasury, Swiss National Bank, Swiss Federal Finance Administration.
Since being established, the OITC has
become the largest single owner of Home Mortgage Securities in the World
today. Original assets in the form of gold have been wisely and well
utilized to create wealth that creates further wealth.
The Assets of the Combined International
Collateral Accounts are in constant use, assisting to finance countries
and such organisations, either in part or full, as the International
Monetary Fund, The World Bank, The International Finance Corporation,
International Development Banks, United Nations, and additionally
under-pinning the US Dollar as the World’s Reserve Currency.
So as to protect the assets, as well as
protecting Dr. Ray C. Dam (International Treasury Controller), together
with all other persons involved, full International Protection and
Immunity under Full Jacket Security Level 3 – 5 was applied, attested
and affirmed under the Great Seal of America (No: 632-258894) on behalf
of the International Community, together and conjointly with Sovereign
Entity Status under the United Nations.
It should be noted that only a few persons
in each country of the world are eligible to be able to verify, or
undertake a verification, re: the position of Dr. Ray C. Dam
(International Treasury Controller) and the Office of International
Treasury Control. Such persons are limited to Kings, Queens, Presidents,
Prime Ministers, with Ministers of Finance and Ministers of Foreign
Affairs subject to security status and special conditions /
dispensation.
For anyone, other than those persons
referred to above, to attempt to undertake verification would be futile
and would result in deliberate misinformation on same, or no response at
all. Additionally, “Classified” information is not available, and never
will be, on or through the “www” or various Web Sites which are totally
unregulated, uncontrolled, and legally void, whereby reference to such
Web Sites will only reveal speculations, innuendoes, comments from the
uninformed, deliberate propaganda and misinformation, or similar.
YOU ARE THEREFORE ADVISED NOT TO UTILISE
THE “WWW” OR VARIOUS WEB SITES FOR ANY FORM OF VERIFICATION AS IT IS NOT
OFFICIAL, NOR IS IT A PROFESSIONAL METHOD OF VERIFICATION, NOR WILL IT
GIVE YOU ANY CORRECT OR ACCURATE INFORMATION.
International Treaties:
Jekyll Island Agreement (Georgia U.S.A., 1908.) The Aldrich Act (U.S.A. 1910 ) Creation of Federal Reserve System (Washington, U.S.A., 1913) Trilateral Tripartite Trillenium Pact Between Nations (London 1921) The Gold Act, (U.S.A. 1924) Creation of Bank for International Settlements (January 20, 1930) Bretton Woods Agreement (New Hampshire, U.S.A., 1944) B.I.S. Agreement with the Allies (Berne, Switzerland, 1946) Green Hilton Memorial Agreement (Geneva, Switzerland, 1963-1968) Schweitzer Conference (Innsbruck, Austria, 1964) Schweitzer Convention (The Hague, Netherlands, 1968 and revisions thereof, 1972, 1984, and 1998 Washington Panel) Respecting the Rights Treaty (Bangkok 2003)
Pursuant to International Treaty
Agreements agreed and entered, the following being the rules for
statement of the rules, with the funds and assets thereof held under his
irrevocable and absolute dispositional control of His Excellency Dr.
Ray C. Dam as owner and Sole Arbiter of all assets held under the
Institutional Parent Registration Accounts and all sub accounts thereof
and linked thereto.
Record: Butler, Charles H., The Treaty Making Power of the Means, United States Senator Committees);
The Green Hilton Agreement (Geneva
1963-1966 the Guarantee is Declared on by International Consent); the
Guarantee confirmed and established under Schweitzer Innsbruck
Conference (Innsbruck, Austria 1964, record: Democrat, Royden J, The
Treaty Making Power in the Defense of the Senates part in Treaty Making
and the Foreign Controller of Gold Act, (1972) in the Senate of the
United States, Volume II, Chapter 7, International Panel (The Hague
1968) which transferred to the Trust and Foundation in its supervisory
role and in protection of the free world.) and subsequent revisions
thereof governing the management and control of International Collateral
Combined Accounts otherwise also known as the Global Debt Facility;
The RCD Full Jacket (record: Third Level
and Five Level Rule in Senate Actions upon Treaties (1901-1989) American
Banking and Bullion International Law 18 (1924) Amended Foreign Gold Act (1972, Washington D.C.);
Appointment and Empowered the Person
(January 20, 1995, The Congress assembled the Legislative Press in the
Tripartite, Trilateral, Trillenium Pact, being the applicable Pact
between World Governments (London, 1921).
Reference Codes
INTERNATIONAL RECORD.
Ownership Rights Recorded : ……Legal Decadency to Heir RCD1088 Far East Entire Governments Empowered the Person : ……..International Control No. 10-60847 International Clearing Code : ……………………….UNRCD-ID006197 UN/Federal Service Record No. : ……………………………0-99-2-33 Protectorate and Immunity Granted and Recorded: …Great Seal No. 632259984
Statements of Fact
1. The Tripartite Gold Commission, established under
the Bretton Woods Agreement for a single term of 50 years, ceased
operations in 1994 and was formerly wound up in 1997, after having
fulfilled it’s life term.The World Governments via their respective
interests in the Bank for International Settlements, appointed a Sole
Arbiter to succeed the Commission on January 20, 1995. All assets deemed
to be held under the Commission’s Trustee were ceded and transferred to
the Ownership of the Sole Arbiter, thereby granting unrestricted and
absolute control to the Sole Arbiter.
2. His Excellency, Dr. Ray C. Dam, is the appointed
and empowered person holding full disposition rights and authority over
said assets and accounts by virtue of the authority vested in him by the
Governments of the World, whom he represents, such authority being
chartered and then registered with the United Nations.
3. As Chairman of the said Trust and Foundation and
Sole Arbiter and Lawful Owner of all the assets held within Foundation
Divine and the Heritage International Trust and their internal and
ancillary Trusts, Foundations and Corporations, such Ownership granted
to him by the International Community on January 20, 1995, His
Excellency Dr. Ray C. Dam holds the absolute right to determine and make
ruling, such ruling to be enforced (if necessary) by the Justice
Department of the United States of America; (this right of control is
guaranteed by the United States Congress ,reaffirmed by the Senate of
the United States and recorded within United States Presidential Office
of Management and Budget, whereat, empowerment of his person and his
full indemnified status is acknowledged under Great Seal No. 632259984
and further registered within the International Division of the
Department of the Treasury of the United States of America, The Bank for
International Settlements, Swiss National Bank and the Swiss Federal
Finance Administration), whereby his determination and ruling on all
matters relating to the assets under his control is inviolate and may
not be set aside, modified or denied by any agreement or arrangement
between other parties and or institutions, or by any other ruling not
assented to by the International Community who empowered his person.
Decisions / Determinations made by H.E. Dr. Ray C. Dam in respect of the
Combined International Collateral Accounts of the Global Debt Facility,
take precedence over all / any laws, adjudications, Legal Rulings, or
similar, determined by any Court of any other Country, including the The
International Courts (World Courts).
4. Under International Control Number 10-60847, the
right of control is established and Chartered by Treaty Agreement
between all Nations, then registered with the United Nations as a
sovereign entity that is to be beyond all other jurisdictional controls.
This creation of a sovereign jurisdiction of control preserves and
protects the official independence of the appointed and empowered
person, His Excellency Dr. Ray C. Dam, his heirs and successors.
5. Within that Jurisdiction are two institutions:
a. The Office of International Treasury Control:
This Institutional Organization exists to assist and advise the
International Treasury Controller, His Excellency, Dr. Ray C. Dam, in
the exercising of his Authority.
b. Consolidated Credit Bank Limited: A non-public
internal Bank which is empowered and deemed as the last holding bank,
the only Bank in the World with lawful authority and capacity to confirm
assets and accounts of the International Treasury Controller and to
issue any legal obligation against those accounts and to direct
beneficial payments for those accounts. It is an Institutional Bank held
within the Federal Reserve. It will not be found within the “Bankers
Almanac”, “The Banker”, or any other Professional Handbook.
6. Few organizations have been so publicly attacked
and maligned as The Office of International Treasury Control (OITC), by
intensive and extensive disinformation campaigns, gossip, innuendoes,
and the likes. Much of this is expanded by public perception and
failures in total understanding that is further fueled by “Levels of
Secrecy” that are imposed upon OITC, ignorance, political influence,
even fear, or similar issues.
All Governments are advised to stay with proper procedures and
protocols and to conduct any undertaking for verification of the real
existence of H.E. Dr. Ray C. Dam (International Treasury Controller),
the OITC in compliance with such procedures and protocols, and to
disregard internet gossip and reports, articles, or similar, to the
contrary.
7. Political Issues. The Office of International
Treasury Control is a non-political organization whose objectives, as
determined by the Nations of the World, embodied within numerous
International Treaties, is to “Financially assist” the Nations of the
World and its People for the betterment of all, in a balanced and
sustainable manner, irrespective of the political or religious base of
any country.
8. Assets of the Combined International Collateral
Accounts of the Global Debt Facility: These are held in the majority of
Countries (Japan, United Kingdom, United States of America, China,
Taiwan, Philippines, Thailand, Cambodia, Jordan, Singapore, France,
Germany, Austria, Luxembourg, Belgium, Norway, Caribbean Islands, Egypt,
South Africa, Uruguay, Argentina, Italy, Russia, plus many more
countries) throughout the World, in Central Bank Vaults, Commercial
Banks, Bonded Warehouse Depositories, Military Establishments, and in
such inhospitable places as in Sunken Ships on the Seabed, on the bed of
large Reservoirs, Caves, Purposely dug Mountain Tunnels, Old Mines,
Bunkers, and such places.
The actual Accounts (Ledgers) are held within the US Federal Reserve,
The US Treasury, The Swiss National Bank, The Swiss Federal Finance
Authority and the Bank for International Settlements.
Transfers of any Assets, are restricted to the International Central
Bank System. Assets can rarely be transferred via the normal Commercial
Banks, but it is possible depending on the International status of any
specific Commercial Bank. (Source : http://www.unoitc.org/History.html)
***
Keberagaman Raja Nusantara Kumpul di Istana
Minggu, 30 November 2008 | 02:54 WIB
Jakarta, Kompas – Sebanyak 118 raja, sultan, penglingsir, panembahan,
kepala, serta kepala adat yang tergabung dalam Forum Silaturahmi
Keraton Se-Nusantara berkumpul dan diterima Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (29/11). Mereka mengapresiasi
kemajuan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono dan akan
membalas budi baik itu pada masa mendatang.
”Hati kami malam ini sungguh berbunga-bunga Bapak Presiden. Ada
getaran tersendiri ketika kami menginjakkan kaki di Istana Negara.
Istana Negara saat ini jauh berbeda dibandingkan dahulu. Dahulu tidak
ada gambar- gambar para pendahulu. Inilah budaya kita, yaitu menghormati
pendahulu kita,” ujar Ketua Umum FSKN Raja Ida Tjokorda Denpasar IX
dalam sambutannya.
Pujian kepada Presiden disambut tepuk tangan sekitar 100 raja beserta
permaisuri yang hadir dengan pakaian adat mereka masing-masing. FSKN
adalah forum yang dibentuk Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik
tahun 2006. Jero Wacik adalah menteri yang berasal dari Partai Demokrat.
Para raja diterima Presiden Yudhoyono di Istana Negara di sela-sela
pameran budaya yang diselenggarakan pada 25-30 November 2008. Pameran
diikuti 110 keraton dan lembaga adat dari 118 anggota FSKN.
FSKN mengapresiasi bantuan Presiden Yudhoyono lewat Menbudpar dalam
rangka upaya bersama melestarikan dan mengemban adat, salah satunya
dengan pariwisata. Namun, FSKN juga menemukan kendala yang dihadapi
keraton di seluruh Nusantara. ”Akibat sistem politik, demokrasi, dan produk undang-undang,
keraton-keraton di daerah makin menjauh dan tercerabut dari akar-akar
budayanya sendiri,” ujar Ida.
Dalam pengarahannya, Presiden mengemukakan, di tengah terjadinya
interaksi sistem nilai dan akulturasi budaya, Indonesia akan tetap
menjadi rumah yang teduh tempat semua orang hidup berdampingan, saling
hormat- menghormati, dan rukun satu sama lain. ”Indonesia akan menjadi
rumah yang besar, indah, dan teduh,” ujarnya.
Presiden mengemukakan, budaya Nusantara yang beragam akan menunjukkan
Indonesia sebagai bangsa yang besar. ”Jangan direduksi ke urusan-urusan
politik dan administrasi,” ujarnya.
Di tengah perubahan yang terjadi, Presiden meminta para raja
berkontribusi melestarikan peradaban, budaya, dan warisan bangsa serta
membantu mengatasi masalah yang saat ini sedang timbul, yaitu
mengembangkan ekonomi kreatif dengan dasar warisan budaya. Salah satu
wujud ekonomi kreatif adalah pariwisata.
Dari jumlah 261 kerajaan besar dan kecil seluruh Nusantara, saat ini
baru tergabung 118 kerajaan yang tersebar di 23 provinsi. Keraton
Yogyakarta tidak masuk dalam FSKN, tetapi, menurut Ida, mengirimkan
wakilnya untuk hadir.
”Beliau (Sultan Hamengku Buwono X) belum masuk, tetapi kami saling
berkomunikasi. Untuk acara ini, kami juga melayangkan undangan,”
ujarnya.
Para raja yang hadir antara lain dari Sumatera Utara, Riau, Kepulauan
Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Timur-Madura,
Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat,
Maluku, dan Papua Barat.
SERANG, SABTU — Keturunan keraton dan
kesultanan se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Kerajaan
Se-Nusantara (FSKN) meminta perhatian pemerintah. Sebab, Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat penyerahan aset kerajaan
kepada republik dengan ikhlas.
Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal FSKN, Kanjeng Pangeran Haryo
(KPH) Gunarso G Kusumodiningrat, di sela-sela Mukernas FSKN yang
dihadiri 46 perwakilan keturunan raja-raja Nusantara di Hotel Le Dian,
Serang, Jumat (9/1) kemarin.
“Kami minta perhatian pemerintah, khususnya untuk melestarikan aset kerajaan yang tersebar di Nusantara ini,” kata KPH Gunarso.
Dikatakan pula, FSKN merupakan kumpulan keluarga keturunan raja dan
atau sultan yang berdiri pada Agustus 2007. Organisasi ini lahir untuk
melestarikan budaya kerajaan yang tersebar di Indonesia.
Saat ini anggotanya mencapai 118 dari 200 keturunan raja di
Nusantara. Jumlah ini merupakan hasil penelitian dari Lembaga
Pengembangan Penelitian Kerajaan Nusantara (LP2KN).
“Seluruh anggota itu tercatat di Leyden, Belanda. Dan itu tidak bisa
ngaku-ngaku, karena seluruhnya diteliti oleh LP2KN,” tegas KPH Gunarso.
Datuk Andi Unru, Keturunan Kerajaan Kadatua Sopeng, Sulawesi Selatan,
mengaku senang bergabung dalam FSKN. “Kita bisa saling berkeluh kesah
sesama keluarga keturunan raja, yang saat ini dipandang sebelah mata
oleh pemerintah. Padahal, cikal bakal NKRI ini ya berkat raja-raja
tersebut,” katanya. (nir) (sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/0901356/keluarga.keraton.minta.diperhatikan)
****
SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA
Gusti.MKH.Damanik
Wed, 17 May 2006 01:33:50 -0700
Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita pelajari dan kita ungkap bersama.
Dengan sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada
dasarnya walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain. Sunda
Kelapa identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta sebagai Ibu
Kota Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia sekarang ini.
Sedangkan Sunda Nusantara merupakan suatu Negara yang berbentuk
Kerajaan dengan Pemerintahannya berdasarkan Konstitusi Parlementer
Demokrasi Sejati Reformasi Kerakyatan dan Kemakmuran Bangsa Sunda Tanah
Air di daratan Sunda Nusantara.
Wilayah : Sunda Nusantara memiliki wilayah yang
terbentang dari barat sampai timur dari Jawa sampai dengan Papuniginia
(Irian), bentangan dari selatan sampai dengan utara, mulai dari Timor
sampai dengan selat Malaka-Singapura.
Dalam bentangan ini diklasifikasi dalam bentuk besar kecilnya Nusa (Pulau) itu sendiri dengan klasifikasi:
1.Klasifikasi kepulauan Sunda Besar : Jawa(Jawa Dwipa), Sumatera (Andalas), Kalimantan (Borneo), Selat Malaka-Singapura, Papua Nuginia (Irian)
2.Klasifikasi Pulau Sunda Kecil : Kepulauan Maluku, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Sumba, Pulau2 kecil
lainnya yang sampai sekarang masuk pengakuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia..
Bangsa : Bangsa Sunda Nusantara sudah berumur 86.000.000 (delapan puluh enam juta
tahun silam) merupakan bangsa tertua di Asia Tenggara sebagai induk
bangsa yang melahirkan bermacam-macam suku-suku di wilayah /daratan
Sunda Nusantara-Sunda Melayu, yang sekarang berubah nama Negara Kesatuan
Negara Republik Indonesia.
Politik : • Kerajaan Sunda Nusantara sejak abad 15 sudah mengadakan hubungan
diplomatik pada Negara-negara seluruh dunia, sampai dengan saat ini
secara de facto, de yure dan legitimate masih mendapatkan pengakuan
(Internationalle recognized Negara-negara seluruh dunia di bawah naungan
Badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah International di negeri Belanda.
• Pada akhir perang dunia ke II, kedatangan penjajah bernama Netherland India Commisiton Administration
(NICA) tepatnya tahun 1945-1950 menyerahkan kekuasaannya kepada
Republik Indonesia Serikat (1950) dan mengakibatkan timbulnya
pemerintahan baru di bawah pimpinan Mr. Ir Soekarno dengan beberapa kali
pergantian pimpinan sampai dengan sekarang ini.
• Pemerintahan tersebut diatas berkembang di wilayah negara lama
yaitu wilayah daratan “Kerajaan Maha Raja Sunda – Sunda Nusantara –
Sunda Melayu Nusantara” dengan pimpinan kepala Negara dan Kepala
Pemerintahan Sunda-Sunda Nusantara pada abad 18 ini di pimpin oleh
kaisar Achmad (SERI BADUGA MAHARAJA KAISAR SULTAN ACHMAD AL-MISRI) yang
beristana di Jakarta, Bogor, Cipanas, Sorosowan (Banten) dan Pandegelang.
Sejarah : Pada abad 18 dengan pesatnya perkembangan Agama Islam di wilayah Sunda
Nusantara pimpinan Sunda Nusantara telah menganut Agama Islam dengan
patuh seperti pada masa 1513-1552 SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA SUSUHUNAN
SYARIEF HIDAYATULLAH AL-MISRI (Sunan Gunung Jati Wali Sanga/Sembilan)
lahir di Mekkah tahun : 1488 yang merupakan anak dari pasangan RAJA
MESIR SYARIEF ABDULAH AL-MISRI (Generasi ke 22 ROSUL SAW) dan NYAI RATU
RARA SANTANG AL SARIPAH SITI MUDA’IM yang wafat di Madinah thn 1528 di
makamkan di keluarga Rosul.
Sunan Gunung Jati menikah dengan (Permaisuri) CROWN PRINCE PANGERAN
PUTRI PEMBAYUN yang merupakan putri dari PB. Brawijaya-V. Ajaran Agama
Islam ini dipegang teguh oleh para ahli waris tahta kerajaan terutama
sebagai pimpinan kepala Negara dan kepala pemerintahan. Pimpinan
tertinggi SERI BADUGA MAHARAJA KAISAR SULTAN ACHMAD AL-MISRI yang wafat
pada tahun 1840 di desa Burakan, Rembang, Jawa Tengah.
Dalam peperangan terbuka (10 Mei 1810) dapat menumpas pasukan
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Wiliem Daendeles. Dalam
peperangan itu ditaklukkan (10 Mei 1810-1811) Gubernur Jenderal HW
Daendeles beserta pasukannya menyerah tanpa syarat dan H.W Daendeles
dipenjarakannya. Istana Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan terletak
di Jakarta, Bogor, Cipanas dan Sorosowan (Banten).
Thomas Stamford Raffles (1810-1816) dengan akal cerdiknya mengajak
pimpinan tertinggi Kepala Negara dan kepala pemerintahan Kerajaan
Maharaja Sunda-Sunda Nusantara, Kaisar Achmad pergi jalan-jalan/pelesir
ke pulau Banda Maluku (Pulau Sunda Kecil) dengan alasan menyambut
kemenangan tanpa syarat terhadap penumpasan H.W Deandeles.
Selanjutnya Kaisar Achmad di tinggalkan begitu saja dengan tangan
diikat di pulau Banda dan pemerintahan Sunda Nusantara diambil alih dan
pengambilan alihan itu meluas sampai Selat Malaka-Singapura. Sunda
Nusantara yang sudah sejak 86 juta silam dan juga sudah berhubungan
diplomatic sejak abad 15, perjalanan sejarahnya mengalami beberapa
peristiwa didalamnya. Dari bentuk kerajaan hinga Republik sekarang ini.
A ——B——B——C——-D——-E—–F——G—–H
A-H : Bentangan sejarah Sunda Nusantara kurun waktu kurang lebih 86 juta tahun. B-B : Bentuk Zaman Kerajaan C : Peristiwa kebangkitan bangsa oleh Alumnus dari Negeri Belanda D : tahun 1945 Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI E : tahun 1947/48 Clash I&II Belanda ingin merebut kembali F : tahun 1950 Negara Indonesia Serikat (RIS) G : tahun 1959 Dekrit Presiden, gugurnya Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Republik Indonesia (RI) kembali s/d sekarang H : tahun 2006 Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Kesejahteraan seluruh bangsa rakyat Sunda Nusantara di daratan Sunda
Nusantara-Sunda Melayu sampai saat ini disimpan di 93 Negara dalam
bentuk assat-asset :
• Collaterals in federal reserve certificate of the united states America Bound Guarantee • Redland Merchant Bank of Switzerland • Obligation certificate of deposit credit Swiss Bank International • Certificate of Swiss Bank Corporation Obligation treasure Bound National Bank of England • Bank de Netherlands • City Bank New York and United Overseas Bank Singapore
Selain itu asset-asset ini juga berbentuk logam mulia, platinum, dan
benda-benda berharga lainnya yang dikumpulkan oleh Raja-raja diseluruh
Sunda Nusantara di daratan Sunda Melayu Nusantara Bangsa Sunda Nusantara
di daratan Sunda Nusatara di kepulauan Sunda Besar-Sunda Kecil.
Di samping itu masih tersimpan uang sebesar 4000 triliun
poundsterling yang tersimpan di Negara Inggris. Dapat dibayangkan betapa
besarnya asset-asset bangsa Sunda Nusantara yang hingga saat ini masih
tersimpan dan tersebar di luar negeri yang di sebut the making of a super power dan Sunda Nusantara Dollar Trilion, milik pemerintah Negara Kerajaan Bangsa Sunda Nusantara.
Seandainya Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
dipimpin oleh Bpk. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini berkenan
untuk mengakses dan mengakomodasi eksisnya kerajaan Sunda Nusantara,
kiranya sangat membantu mengatasi penderitaan bangsa/rakyat yang telah
mengalami keterpurukan hidup yang menimpa sampai saat ini.
Di samping itu asset-aset tersebut dapat dipergunakan untuk melunasi
hutang pemerintah yang menggunung sejak Presiden Soeharto sampai dengan
saat ini. Sehingga kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bangsa
Indonesia cepat terwujud sesuai dengan cita-cita yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 khususnya alinea kedua (tata tentrem karta tur
raharja, adil berkemakmuran, makmur berkeadilan) Insya Allah.
Untuk mendapatkan kebenaran secara akurat, tentunya masih diperlukan
pengkajian, penelitian dan penganalisaaan lebih lanjut. Semoga kita
semua selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT, Amien ya
robbal’allamin. (sumber : http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04126.html)
*****
Historical Perception, Collateral Accounts and the Wealth of the World, Are the “Royal Families of the World” still running things? original title before DrBubb changed it: “Mr Whistleblower, working with OITC” says…
==========================
(request from drBubb to BHP-T.):
Please provide a summary here. No one will read all this, unless they have some idea of what you are talking about
Is it this: The OITC and the Royal Families of the world will eventually provide $55 Trillion to save the world from it current worsening mess. But if our leaders choose to take it, it will come with a new global currency, and a new system of leadership.
How do bits like this fit in ?: 1/ “If you carefully analyse our information, especially our method of
introducing financial assistance to any one country, you will appreciate
that the methodology and mechanisms employed by the OITC actually avoid
a uni-polar system and allows for each country to gain Financial
Independence from what is commonly referred to as colonialism by one or
more of the so-called greater nations.
2/ “Only 2 years ago, we came across a group who referred themselves
as “Knights Templar” attempting to buy Gold which was stolen out of the
Philippines and Thailand. They were working with the Federal Reserve and
Deutsche Bank in Germany. Another example happened quite recently with
another general inquiry to us. This one we saw through quite quickly and
as it turns out we are now aware of how, in part, the “Jews” control
many countries in Africa, utilising such organisations as the IMF, WB,
and even the UN, plus various Intelligent Agencies.”
==========================
Communications between us and a person, Mr Whistleblower, working
with OITC. We are asking for comments regarding the presentation and
additional info.
The government of Indonesia as of December 2007 decided that ancient
culture and royalty must be recognized. Hence, the Indonesian government
has officially recognized the important contribution of the former
small monarchs in their history and are registering the present heads of
the ruling families as representing the former kings and sovereign
princes who ruled their land. Apparently about 100 of about 300 have
been screened so far as valid claimants. However, some have too many
claimants as royal heads of heir particular branch and therefore may not
be included among the honored. But this recognition is a great
milestone for these ancient royal families.
The 2004 article starts off with the following two paragraphs:
The last sultan of Pontianak, Syarif Hamid II Alqadrie, was jailed
for 10 years in 1953 for siding with the Dutch army against the
Indonesian Republic during the revolution of 1945. When he died in 1978
the throne was left empty. His palace remained a somewhat run-down
tourist attraction by the Kapuas River. In January 2004 a new sultan was
installed in the Qadriah palace, a nephew of Sultan Hamid II.
At the celebration to mark the occasion, golden umbrellas adorned the
palace, and thousands of well-wishing guests dressed in traditional
Malay finery feasted on food set out in long rows on mats. Massive
cannon shots boomed over the river and Air Force Skyhawks performed
acrobatics over the palace. The man who said the prayers almost choked
on his tears; his father had taught the Koran to the entire Alqadrie
family years ago. It seemed as if the past was not gone after all.
Long-dormant sultanates are being revived all over Indonesia. My own
list, no doubt incomplete, contains about 24 of them in Kalimantan,
Sumatra, Java, and Maluku. That does not count the 40 or so sultans and
non-Islamic kings whose roles have not changed appreciably. Figures such
as the sultan of Bima and the king of Kupang have always been respected
as informal local leaders.
The governmental climate that has allowed this change is that a new governmental focus on:
Autonomy has brought not merely new administrative arrangements but a
new kind of political struggle requiring new (or newly reinvented)
symbols. The autonomy laws are focused on the districts (kabupaten),
not on the provinces. The boundaries of these districts often reflect
the numerous small kingdoms that were incorporated into the Netherlands
Indies by Dutch colonists, some of which were described by Joseph Conrad
in his stories, including Lord Jim.
Areas ruled indirectly covered more than half the archipelago outside
of Java. It should be no surprise that these kingdoms have now become
symbols of district identity. The message to Jakarta is: don’t
underestimate us, we have a magnificent history.
It is important to remember that the sultans are symbols lacking real
power. There is no question of them becoming real sultans; they are
weekend sultans who hold regular jobs in the city, not the `off with his
head!’ sultans of another era.
Exactly what the symbols mean is more difficult to determine. There
is no doubt that Indonesia’s sultans are well liked and the notion of
kingship remains a popular one. . . .
The royal families I have spoken with in West Kalimantan say their
leadership is meant to bring different ethnic groups together. They
point out that their forefathers married into many different groups in
order to extend their influence, as kings have always done. The Mempawah
royal family has Bugis and Dayak blood as well as Malay in its lineage,
making the sultanate a symbol of an all-embracing unity. . . .
However, these symbols can become divisive if turned to real political power. . .
The author concluded, “It is yet to be determined if the new sultans can be a positive influence on local politics. . . .”
Donald Tick states:
The king; sultan Hamengku Buwono X of Yogjakarta, tried during the
presidential election of 2009, to become the new president, but it was
not yet the time for it, although he was very popular.
The royalty are now represented by 3 organisations: FKKAS (for
Sulawesi only), FKIKS (the oldest one) and FSKN (this last one is the
most succesful and is seen as the official one, but it has some
political problems in it’s history).
. . . The organising of royal festivals can be a way of showing royal
culture to outsiders and especially to their own people, who with
amazement sees the rich culture, which was pushed back for such a long
time [since 1945].
Time will tell, how the royalty and the people will deal with all of
this, because it is a living process with human beings, who must choose
and revalue an important matter in their existence.
We can only hope the best for them and that the Creator above will give them wisdom.
This article will be added to as more facts become apparent, but we
welcome the recognition of royalty and its importance and relevance to
modern times all over the earth. --(Source: http://www.nobility-royalty.com/id90.htm)
Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara
22 Juli 2009
(Recent Development of Project “History of Indonesian Kingdoms and Princely States, July 22th 2009)
Pada hari ini berhasil
dikumpulkan data sejarah 118 kerajaan di Indonesia! Saya berharap akan
mendapatkan lebih banyak data lagi untuk melengkapi buku saya. (Today I
am able to collect the historical records of 118 kingdoms and princely
states. I hope to get more datas to complete my book)
Akhirnya, saya berhasil juga mengumpulkan data 118 kerajaan yang
tersebar dari Sabang sampai Merauke, padahal sebelumnya saya dilanda
pesimisme akan dapat menyelesaikan proyek ini. Meskipun baru sepertiga
dari keseluruhan jumlah kerajaan yang ada (300 kerajaan), tetapi
perkembangan hari ini boleh dikatakan menggembirakan. Saya optimis akan
dapat mendapatkan sisanya lagi. Adapun data kerajaan-kerajaan yang dapat
saya kumpulkan hingga hari ini adalah sebagai berikut:
Today, I am able to collect historical record of 118 kingdoms an
princely states in Indonesia; which are located from Sabang until
Merauke. In the begining, I was overwhelmed by such a feeling of
uncertainty whether I can finish this project or not. But today’s
development seems bring promises for the future, although the records
are still one third of the 300 kingdoms and princely states ever
existed. I am optimist that I can get the rest. The list of already
available kingdoms is as following:
Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat 1. Banten 2. Priangan
Bokor Emas
Kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur Demak, Pajang, Mataram 3. Surakarta 4. Yogyakarta 5. Mangkunegaran 6. Pakualaman 7. Madura
Kerajaan-kerajaan di Aceh 8. Aceh
Mahkota Emas Binokasih Sanghyang Pake penerus Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun selaku Nalendra Sumedanglarang
Kerajaan-kerajaan di Gayo (Kejuron) 9. Cek 10. Buket 11. Karang 12. Linggo 13. Petiambang 14. Serbojadi Abok 15. Siah Utama
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara, Barat dan Timur 16. Asahan 17. Batak 18. Deli 19. Langkat 20. Minangkabau 21. Indrapura
Ikat Bahu Emas pasangan Mahkota Binokasih
22. Inderagiri dan Keritang 23. Kampar 24. Kepenuhan 25. Kuantan dan Kandis 26. Kuntur Daressalam 27. Pelalawan 28. Riau Lingga 29. Rokan 30. Segati 31. Siak Sri Inderapura 32. Tambusai
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Selatan 33. Jambi 34. Palembang
Keris dengan sarung emas Ki Prabu Gajah Agung
Kerajaan-kerajaan di Bengkulu 35. Sungai Serut 36. Selebar 37. Depati Tiang Empat 38. Sungai Lemau 39. Sungai Itam 40. Anak Sungai
Raja Ambon. All the 34 raja's, patihs and orang kaya's of Ambon together
with their staff and their banners with the symbols of the three
kingdoms. About 1920. In the middle with crown: raja Leonard L. Rehatta
van Soya. Photographer unknown. Picture from Pusaka (Indonesian Kingdoms
Documentation Centre) in Vlaardingen (the Netherlands), used with
permission of secretary Donald P. Tick.
(http://www.pesulimahistory.com/indexh.html)
Raja Ambon. The raja of Nusaniwé (2nd from left), raja Semuel Rehatta of
Soya (in the middle) and the raja of Kilang (right). The three of the
most important rajas of Ambon are photographed together with their staff
and the banners with the symbols of the three kingdoms. It is very
plausible that there is a member of the Pesulima family on this picture,
amongst the delegation from Soya. Photographer and year unknown.
Picture from Pusaka.
Royal Families of the World
Royal Families of the World The following is a list of heads of royal families and royal heads of
state and in some cases the royal heir. This page, however, is
incomplete and in some cases controversy exists about who is the
rightful head. We are working to make this list as accurate and
inclusive as possible. The valid and genuine Princes of India and most
of the “de jure” royalty of Asia are unfortunately not included. Any
additions or corrections are most welcome. Thank you. (Source : http://www.nobility-royalty.com/id59.htm)